Doa sebelum Baca Yasin Malam Jumat untuk Orang Meninggal


Jakarta

Surah Yasin adalah surah yang biasa dibaca sebelum tahlil. Sebelum membaca surah Yasin, umat Islam dianjurkan membaca doa. Berikut bacaan doa sebelum baca Yasin lengkap dengan artinya.

Surah Yasin bisa dibaca pada malam hari. Menukil buku Surah Yasin dan Tahlil karya Muhammad Abdul Karim, keutamaan membaca surah Yasin dijelaskan dalam salah satu hadits Rasulullah SAW yang diriwayatkan Abu Hurairah RA. Rasulullah SAW bersabda,

“Barang siapa membaca surah Yasin pada satu malam dengan mengharap ridha Allah, ia akan diampuni (dosa-dosanya).”


Dalam Tafsir Ibnu Katsir terdapat hadits serupa yang menyatakan keutamaan membaca Yasin pada suatu malam. Hadits ini dikeluarkan Ibnu Hibban dalam kitab hadits shahihnya dari Jundub bin ‘Abdullah, ia berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa yang membaca surah Yasin pada malam hari, karena semata-mata mencari ridha Allah, maka ia telah diampuni dosa-dosanya oleh Allah SWT.”

Ada juga hadits yang menyebut keutamaan membaca surah Yasin pada malam Jumat. Rasulullah SAW bersabda,

من قرأ سورة يس والصافات ليلة الجمعة أعطاه الله سؤله

Artinya: “Siapa yang membaca surah Yasin dan As Saffat pada malam Jumat, Allah mengabulkan permintaannya.” (HR Abu Dawud dari al-Habr. Al Manawi dalam Faydl al-Qadir menyebut hadits ini sanadnya terputus)

Umat Islam yang akan membaca surah Yasin bisa mengawalinya dengan mengamalkan doa sebelum baca Yasin. Doa ini disebut tawasul Yasin.

Doa sebelum Baca Yasin

Mengutip buku Masalah Garis Perbatasan Nahdlatul Ulama karya Cholil Nafis, tawasul secara bahasa berarti perantara atau mendekatkan diri. Tawasul disebutkan dalam Al-Qur’an surah Al-Ma’idah ayat 35.

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَابْتَغُوْٓا اِلَيْهِ الْوَسِيْلَةَ وَجَاهِدُوْا فِيْ سَبِيْلِهٖ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, carilah wasilah (jalan untuk mendekatkan diri) kepada-Nya, dan berjihadlah (berjuanglah) di jalan-Nya agar kamu beruntung.”

Tawasul dalam konteks doa adalah doa kepada Allah SWT melalui suatu perantara, baik berupa amal baik ataupun melalui orang saleh yang dianggap memiliki posisi lebih dekat dengan Allah SWT. Tawasul menjadi salah satu usaha agar doa yang dipanjatkan diterima dan dikabulkan Allah SWT. Maka dari itu, tawasul bukan merupakan suatu keharusan.

Selain dalam ayat Al-Qur’an, tawasul juga dijelaskan dalam sebuah hadits yang menyebutkan perilaku sahabat Rasulullah SAW.

“Dari Anas bin Malik bahwa ketika mereka menghadapi kemarau panjang, Umar bin Khattab meminta hujan melalui Abbas bin Abdul Muttalib. Umar berkata, ‘Ya Allah, kami telah bertawasul dengan Rasulullah SAW dan Engkau beri kami hujan, maka kini kami bertawasul dengan paman Rasulullah SAW, maka turunkanlah hujan….’ Maka hujan pun turun.” (HR Bukhari)

Mengutip situs resmi Nahdlatul Ulama, berikut beberapa doa tawasul yang bisa dibaca sebelum surah Yasin.

Doa Tawasul 1

إِلَى حَضْرَةِ النَّبِيِّ الْمُصْطَفَى سَيِّدِنَا مُحمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَاٰلِهِ وَأَزْوَاجِهِ وَأَوْلَادِهِ وَذُرِّيَّاتِهِ الْفَــاتِحَةُ

Ila ḫadlratin-nabiyyil-musthafâ sayyidinâ Muḫammadin shallallahu ‘alaihi wa sallama wa âlihi wa azwâjihi wa awlâdihi wa dzurriyyâtihi al-fâtiḫah.

Artinya: “Kepada yang terhormat Nabi Muhammad SAW, segenap keluarga, istri-istrinya, anak-anaknya, dan keturunannya. Bacaan Al-Fatihah ini kami tujukan kepada Allah dan pahalanya untuk mereka semua. Al-Fatihah….”

Doa Tawasul 2

ثُمَّ إِلَى جَمِيْعِ أَهْلِ الْقُبُوْرِ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ مِنْ مَشَارِقِ الْأَرْضِ إِلَى مَغَارِبِهَا بَرِّهَا وَبَحْرِهَا خُصُوْصًا إِلَى اٰبَائِنَا وَأُمَّهَاتِنَا وَأَجْدَادِنَا وَجَدَّاتِنَا وَمَشَايِخِنَا وَمَشَايِخِ مَشَايِخِنَا وَأَسَاتِذَةِ أَسَاتِذَتِنَا وَلِمَنْ أَحْسَنَ إِلَيْنَا وَلِمَنِ اجْتَمَعْنَا هٰهُنَا بِسَبَبِهِ الْفَاتِحَةُ

Tsumma ilâ jamî’i ahlil-qubûri minal-muslimîna wal-muslimâti wal-mu’minîna wal-mu’minâti min masyâriqil-ardli ilâ maghâribihâ barrihâ wa baḫrihâ khushushan ilâ abâ’inâ wa ummahâtinâ wa ajdâdinâ wa jaddâtina wa masyâkhinâ wa masyâyikhi masyâyikhinâ wa asâtidzati asâtidzatinâ wa liman aḫsana ilainâ wa liman ijtama’nâ hâhunâ bisababihi, al-fâtiḫah.

Artinya: “Kemudian kepada semua ahli kubur Muslimin, Muslimat, Mukminin, Mukminat dari timur ke barat, baik di laut dan di darat, khususnya bapak kami, ibu kami, kakek kami, nenek kami, guru kami, pengajar dari guru kami, mereka yang telah berbuat baik kepada kami, dan bagi ahli kubur/arwah yang menjadi sebab kami berkumpul di sini. Bacaan Al-Fatihah ini kami tujukan kepada Allah dan pahalanya untuk mereka semua. Al-Fatihah….”

Doa Tawasul 3

ثُمَّ إِلَى جَمِيْعِ أهْلِ الْقُبُوْرِ مِمَّنْ ذُكِرَتْ أَسْمَاؤُهُ فِيْ هٰذِهِ الرِّسَالَةِ حَضْرَةِ رُوْحِ … وَحَضْرَةِ رُوْحِ … وَحَضْرَةِ رُوْحِ … رَحِمَهُمُ اللهُ وَغَفَرَهُمْ، الْفَاتِحَةُ

Tsumma ilâ jamî’i ahlil-qubûri mimman dzukirot asmâ’uhu fi hâdzihir risâlati, ḫadlrati rûhi…, wa ḫadlrati rûhi…, wa ḫadlrati rûhi…, roḫimahumullâhu wa ghafarahum, al-fâtiḫah.

Artinya: “Kemudian kepada semua ahli kubur, yang namanya disebutkan dalam risalah ini. Kepada…, dan kepada…, dan kepada…. Semoga Allah merahmati dan mengampuni mereka. Bacaan Al-Fatihah ini kami tujukan kepada Allah dan pahalanya untuk mereka semua. Al-Fatihah.”

Doa sebelum baca Yasin di atas bisa dipanjatkan untuk orang yang meninggal dunia atau ahli kubur.

(kri/kri)



Sumber : www.detik.com

Benarkah Doa pada Hari Tasyrik Mustajab?


Jakarta

Muslim dianjurkan untuk memperbanyak doa pada hari-hari tasyrik. Disebutkan, memanjatkan doa pada hari tasyrik adalah waktu mustajab atau waktu dikabulkannya doa.

KH Muhammad Habibillah dalam buku Panduan Terlengkap Ibadah Muslim Sehari-Hari mengatakan hari tasyrik tiap 11, 12, dan 13 bulan Dzulhijjah. Pada tiga hari itu, umat Islam masih diharamkan untuk berpuasa.

Hari Tasyrik Waktu Mustajab Berdoa

Hari tasyrik memiliki keutamaan yakni sebagai waktu mustajab untuk berdoa. Sebab, dikutip dari buku Amalan Awal Dzulhijjah hingga Hari Tasyrik karya Muhammad Abduh Tuasikal, sebuah riwayat menyebut hari tasyrik adalah hari yang terbilang.


Diriwayatkan dari Al-Jashshosh, dari Kinanah Al Qurosy, dia mendengar Abu Musa Al-Asy’ariy berkata ketika berkhotbah di hari An-Nahr (Idul Adha), “Tiga hari setelah hari An-Nahr (yaitu Hari-hari tasyrik) itulah yang disebut oleh Allah sebagai ayyam ma’dudat (hari yang terbilang). Doa pada hari tersebut, tak akan tertolak (pasti terkabul), maka segeralah berdoa dengan penuh harap pada-Nya.” (Latho-if Al Ma’arif, 506-505)

Melalui surah Al Baqarah ayat 203, Allah SWT juga memerintahkan untuk memperbanyak berdzikir. Allah SWT berfirman,

۞ وَاذْكُرُوا اللّٰهَ فِيْٓ اَيَّامٍ مَّعْدُوْدٰتٍ ۗ فَمَنْ تَعَجَّلَ فِيْ يَوْمَيْنِ فَلَآ اِثْمَ عَلَيْهِ ۚوَمَنْ تَاَخَّرَ فَلَآ اِثْمَ عَلَيْهِۙ لِمَنِ اتَّقٰىۗ وَاتَّقُوا اللّٰهَ وَاعْلَمُوْٓا اَنَّكُمْ اِلَيْهِ تُحْشَرُوْنَ

Artinya: Berzikirlah kepada Allah pada hari yang telah ditentukan jumlahnya. Siapa yang mempercepat (meninggalkan Mina) setelah dua hari, tidak ada dosa baginya. Siapa yang mengakhirkannya tidak ada dosa (pula) baginya,(yakni) bagi orang yang bertakwa. Bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa hanya kepada-Nya kamu akan dikumpulkan.

Ibnu Umar dan pendapat kebanyakan ulama menyebut hari yang telah ditentukan jumlahnya atau hari yang terbilang itu adalah hari-hari tasyrik. Ada pula yang berpendapat empat hari termasuk dengan Idul Adha.

Doa pada Hari Tasyrik

Dari sekian banyak doa yang dapat dibaca di hari tasyrik, muslim dianjurkan untuk membaca doa sapu jagat. Doa ini merupakan potongan ayat Al-Qur’an surah Al Baqarah ayat 200-201 yang berbunyi:

فَإِذَا قَضَيْتُمْ مَنَاسِكَكُمْ فَاذْكُرُوا اللَّهَ كَذِكْرِكُمْ آبَاءَكُمْ أَوْ أَشَدَّ ذِكْرًا فَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَقُولُ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا وَمَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ مِنْ خَلَاقٍ, وَمِنْهُمْ مَنْ يَقُولُ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

Artinya: “Apabila kamu telah menyelesaikan manasik (rangkaian ibadah) haji, berzikirlah kepada Allah sebagaimana kamu menyebut-nyebut nenek moyang kamu, bahkan berdzikirlah lebih dari itu. Di antara manusia ada yang berdoa, “Ya Tuhan kami, berilah kami (kebaikan) di dunia,” sedangkan di akhirat dia tidak memperoleh bagian apa pun. Di antara mereka ada juga yang berdoa, “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat serta lindungilah kami dari azab neraka.””

Mengutip sumber sebelumnya, disebutkan bahwa dari ayat ini kebanyakan ulama salaf menganjurkan membaca doa “Rabbana atina fiddunya hasanah wa fil akhiroti hasanah waqina ‘adzaban naar” di hari-hari tasyrik. Sebagaimana hal ini dikatakan oleh ‘Ikrimah dan ‘Atha’.

Karena doa sapu jagat mengandung seluruh kebaikan, Nabi SAW sendiri bahkan sering membaca doa sapu jagat ini. Diriwayatkan Anas bin Malik RA, ia berkata:

كَانَ أَكْثَرُ دُعَاءِ النَّبِي « اللَّهُمَّ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً ، وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً ، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ »

Artinya: “Doa yang paling banyak dibaca oleh Nabi, ‘Allahumma Robbana aatina fid dunya hasanah wa fil akhiroti hasanah wa qina ‘adzaban naar’,” (Wahai Allah, Rabb kami, berilah kami kebaikan di dunia serta kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa api neraka).” (HR Bukhari dan Muslim)

Doa sapu jagat ini juga termasuk dzikir, bahkan bacaan doa sekaligus dzikir disebut paling utama. Oleh karena itu, kita perlu membaca doa sapu jagat di hari tasyrik supaya segala hajat kita di dunia dan akhirat dikabulkan oleh Allah SWT.

Membaca doa sapu jagat di hari tasyrik diharapkan akan diberikan selalu keselamatan dunia dan akhirat. Doa sapu jagat isinya merupakan semua kebaikan dan dalamnya tidak ada keburukan. Oleh karena itu, doa ini menjadi pilihan yang sangat sering dilantunkan oleh orang-orang terbaik, di waktu yang terbaik, termasuk di hari tasyrik.

Wallahu a’lam.

(rah/rah)



Sumber : www.detik.com

Doa Ziarah Kubur Orang Tua Lengkap Arab-Latin Sesuai Sunnah


Jakarta

Muslim sebaiknya memahami doa ziarah kubur hingga amalannya terlebih dahulu sebelum menuju pemakaman. Doa ini juga bisa diamalkan ketika berziarah ke makam orang tua.

Mengutip buku Fikih Madrasah Tsanawiyah Kelas IX karya H. Ahmad Ahyar dan Ahmad Najibullah, kata ziarah berasal dari bahasa Arab yang berarti mendatangi atau mengunjungi. Ziarah menjadi salah satu amalan sunnah yang dicontohkan oleh Nabi SAW.

Sebagaimana dalam sebuah hadits yang berbunyi, “Aku (Nabi SAW) dulu melarang kamu ziarah kubur, maka sekarang berziarah kuburlah kamu, karena ziarah kubur itu bisa melunakkan hati, bisa menjadikan air mata bercucuran dan mengingatkan adanya alam akhirat, dan janganlah kamu berkata buruk.” (HR Hakim)


Tujuan ziarah kubur untuk mengingatkan manusia terhadap kematian. Mengingat mati atau hari akhirat bukan semata-mata ingat dalam pikiran dan angan-angan tetapi perlu diikuti perubahan sikap hidup, yakni senantiasa berusaha meningkatkan amal baik dan berhati-hati.

Doa Ziarah Kubur Singkat hingga Panjang Lengkap Berurutan

  • Mengucapkan Salam kepada Ahli Kubur

السَّلامُ على أهْلِ الدّيارِ مِنَ المُؤْمنينَ وَالمُسْلمينَ وَيَرْحَمُ اللَّهُ المُسْتَقْدِمِينَ مِنْكُمْ وَمِنَّا وَالمُسْتأخِرِين وَإنَّا إنْ شاءَ اللَّه بِكُمْ لاحِقُونَ

Assalâmu ‘alâ ahlid diyâr minal mu’minîna wal muslimîn wa yarhamullâhul-mustaqdimîn minkum wa minnâ wal musta’khirîn, wa innâ insyâ-Allâhu bikum lâhiqûn

Artinya: Assalamu’alaikum, hai para mukmin dan muslim yang bersemayam dalam kubur. Semoga Allah melimpahkan rahmat kepada mereka yang telah mendahului dan yang akan menyusul kalian dan (yang telah mendahului dan akan menyusul) kami. Sesungguhnya kami insya allah akan menyusul kalian.

Adapun bacaan versi panjang sebagai berikut. Diambil dari buku Doa dan Zikir Sepanjang Tahun karya H. Hamdan Hamedan, berikut bacaan lengkapnya.

السَّلَامُ عَلَيْكُمْ يَا حَضْرَةَ الْمَرْحُوْمِ … وَيَا أَهْلَ الدِّيَارِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللَّهُ بِكُمْ لَاحِقُوْنَ وَأَنْتُمْ لَنَا فَرَطٌ وَنَحْنُ لَكُمْ تَبَعُ نَسْأَلُ اللَّهَ الْعَافِيَةَ لَنَا وَلَكُمْ اللَّهُمَّ رَبَّ الْأَرْوَاحِ الْفَانِيَةِ وَالْأَجْسَامِ الْبَالِيَةِ وَالْعِظَامِ النَّخِرَةِ الَّتِي خَرَجَتْ مِنَ الدُّنْيَا وَهِيَ بِكَ مُؤْمِنَةٌ أَدْخِلْ عَلَيْهَا رُوْحًا مِنْكَ وَسَلَامًا مِنَّا لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ يُحْيِي وَيُمِيتُ وَهُوَ حَيُّ لَا
يَمُوْتُ بِيَدِكَ الْخَيْرُ إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ.

Assalamu ‘alaikum yaa hadratal marhum… wa yaa ahlad diyaari minal mu’miniina wal mu’minaati wal muslimiina wal muslimaati wa innaa insyaa Allahu bikum laahiquuna wa antum lanaa farathun wa nahnu lakum taba’un. Nas’alullahal ‘afiyata lanaa wa lakum. Allaahumma rabbal arwaahil faaniyati wal ajsaamil baaliyati wal ‘izhaamin nakhiratil-latii kharajat minad dunyaa wa hiya bika mu’minatun adkhil ‘alaihaa ruuhan minka wa salaaman minnaa laa ilaaha illallaahu wahdahu laa syariika- lah, lahul mulku wa lahul hamdu yuhyii wa yumiitu wa huwa
hayyun laa yamuutu bi-yadikal khair, innaka ‘alaa kulli syai-in qadiir.

Artinya: “Semoga keselamatan bagimu, keharibaan almarhum, dan keharibaan seluruh penghuni rumah-rumah (kuburan-kuburan) dari golongan orang laki-laki dan perempuan yang beriman dan golongan laki-laki dan perempuan yang beragama Islam. Sesungguhnya kami-jika Allah berkehendak akan bertemu kalian. Kalian mendahului kami, dan kami akan menyusul kalian, kami memohon kesehatan kepada Allah untuk kami dan kalian. Wahai Pemilik roh-roh yang hancur, dan jasad-jasad yang remuk, serta tulang-belulang yang tergerogoti yang keluar meninggalkan dunia dalam keadaan beriman kepada-Mu. Berikanlah mereka ketenangan dan berikanlah kami keselamatan. Tiada Tuhan selain Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya, semua kerajaan dan puji-pujian milik-Nya, Dia Maha Menghidupkan dan Mematikan, segala kebaikan berada dalam kekuasaan-Nya, karena sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (HR. Al-Sunan Al-Kubra dan An-Nasa’i)

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Bismillâhir-raḫmânir-raḫîm

1. Artinya: Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَۙ

Al-ḫamdu lillâhi rabbil-‘âlamîn

2. Artinya: Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam

الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِۙ

Ar-raḫmânir-raḫîm

3. Artinya: Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang,

مٰلِكِ يَوْمِ الدِّيْنِۗ

Mâliki yaumid-dîn

4. Artinya: Pemilik hari Pembalasan.

اِيَّاكَ نَعْبُدُ وَاِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُۗ

Iyyâka na’budu wa iyyâka nasta’în

5. Artinya: Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan.

اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَۙ

Ihdinash-shirâthal-mustaqîm

6. Artinya: Bimbinglah kami ke jalan yang lurus,

صِرَاطَ الَّذِيْنَ اَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ ەۙ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّاۤلِّيْنَࣖ

Shirâthalladzîna an’amta ‘alaihim ghairil-maghdlûbi ‘alaihim wa ladl-dlâllîn

7. Artinya: (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat, bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) orang-orang yang sesat.

  • Membaca Surat Al Baqarah Ayat 1-5

الٓمٓ

Alif lām mīm

1. Artinya: “Alif laam miim.”

ذَٰلِكَ ٱلْكِتَٰبُ لَا رَيْبَ ۛ فِيهِ ۛ هُدًى لِّلْمُتَّقِينَ

Zālikal-kitābu lā raiba fīh, hudal lil-muttaqīn

2. Artinya: “Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa,”

ٱلَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِٱلْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ ٱلصَّلَوٰةَ وَمِمَّا رَزَقْنَٰهُمْ يُنفِقُونَ

Allażīna yu`minụna bil-gaibi wa yuqīmụnaṣ-ṣalāta wa mimmā razaqnāhum yunfiqụn

3. Artinya: “(yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka.”

وَٱلَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِمَآ أُنزِلَ إِلَيْكَ وَمَآ أُنزِلَ مِن قَبْلِكَ وَبِٱلْءَاخِرَةِ هُمْ يُوقِنُونَ

Wallażīna yu`minụna bimā unzila ilaika wa mā unzila ming qablik, wa bil-ākhirati hum yụqinụn

4. Artinya: “dan mereka yang beriman kepada Kitab (Al Quran) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat.”

أُو۟لَٰٓئِكَ عَلَىٰ هُدًى مِّن رَّبِّهِمْ ۖ وَأُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْمُفْلِحُونَ

Ulā`ika ‘alā hudam mir rabbihim wa ulā`ika humul-mufliḥụn

5. Artinya: “Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka, dan merekalah orang-orang yang beruntung.”

اَللّٰهُ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَۚ اَلْحَيُّ الْقَيُّوْمُ ەۚ لَا تَأْخُذُهٗ سِنَةٌ وَّلَا نَوْمٌۗ لَهٗ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَمَا فِى الْاَرْضِۗ مَنْ ذَا الَّذِيْ يَشْفَعُ عِنْدَهٗٓ اِلَّا بِاِذْنِهٖۗ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ اَيْدِيْهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْۚ وَلَا يُحِيْطُوْنَ بِشَيْءٍ مِّنْ عِلْمِهٖٓ اِلَّا بِمَا شَاۤءَۚ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَۚ وَلَا يَـُٔوْدُهٗ حِفْظُهُمَاۚ وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيْمُ

Allāhu lā ilāha illā huw, al-ḥayyul-qayyụm, lā ta`khużuhụ sinatuw wa lā na`ụm, lahụ mā fis-samāwāti wa mā fil-arḍ, man żallażī yasyfa’u ‘indahū illā bi`iżnih, ya’lamu mā baina aidīhim wa mā khalfahum, wa lā yuḥīṭụna bisyai`im min ‘ilmihī illā bimā syā`, wasi’a kursiyyuhus-samāwāti wal-arḍ, wa lā ya`ụduhụ ḥifẓuhumā, wa huwal-‘aliyyul-‘aẓīm

Artinya: “Allah, tidak ada tuhan selain Dia, Yang Maha Hidup lagi terus-menerus mengurus (makhluk-Nya). Dia tidak dilanda oleh kantuk dan tidak (pula) oleh tidur. Milik-Nyalah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Tidak ada yang dapat memberi syafaat di sisi-Nya tanpa izin-Nya. Dia mengetahui apa yang ada di hadapan mereka dan apa yang ada di belakang mereka. Mereka tidak mengetahui sesuatu apa pun dari ilmu-Nya, kecuali apa yang Dia kehendaki. Kursi-Nya (ilmu dan kekuasaan-Nya) meliputi langit dan bumi. Dia tidak merasa berat memelihara keduanya. Dialah yang Maha Tinggi lagi Maha Agung.” (QS Al-Baqarah: 255)

  • Membaca Surat Al Baqarah Ayat 284-286

لِّلَّهِ مَا فِى ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَمَا فِى ٱلْأَرْضِ ۗ وَإِن تُبْدُوا۟ مَا فِىٓ أَنفُسِكُمْ أَوْ تُخْفُوهُ يُحَاسِبْكُم بِهِ ٱللَّهُ ۖ فَيَغْفِرُ لِمَن يَشَآءُ وَيُعَذِّبُ مَن يَشَآءُ ۗ وَٱللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ

Lillāhi mā fis-samāwāti wa mā fil-arḍ, wa in tubdụ mā fī anfusikum au tukhfụhu yuḥāsibkum bihillāh, fa yaghfiru limay yasyā`u wa yu’ażżibu may yasyā`, wallāhu ‘alā kulli syai`ing qadīr

284. Artinya: Kepunyaan Allah-lah segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Dan jika kamu melahirkan apa yang ada di dalam hatimu atau kamu menyembunyikan, niscaya Allah akan membuat perhitungan dengan kamu tentang perbuatanmu itu. Maka Allah mengampuni siapa yang dikehendaki-Nya dan menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya; dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.

ءَامَنَ ٱلرَّسُولُ بِمَآ أُنزِلَ إِلَيْهِ مِن رَّبِّهِۦ وَٱلْمُؤْمِنُونَ ۚ كُلٌّ ءَامَنَ بِٱللَّهِ وَمَلَٰٓئِكَتِهِۦ وَكُتُبِهِۦ وَرُسُلِهِۦ لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِّن رُّسُلِهِۦ ۚ وَقَالُوا۟ سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا ۖ غُفْرَانَكَ رَبَّنَا وَإِلَيْكَ ٱلْمَصِيرُ

Amanar-rasụlu bimā unzila ilaihi mir rabbihī wal-mu`minụn, kullun āmana billāhi wa malā`ikatihī wa kutubihī wa rusulih, lā nufarriqu baina aḥadim mir rusulih, wa qālụ sami’nā wa aṭa’nā gufrānaka rabbanā wa ilaikal-maṣīr

285. Artinya: Rasul telah beriman kepada Al Quran yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (Mereka mengatakan): “Kami tidak membeda-bedakan antara seseorangpun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya”, dan mereka mengatakan: “Kami dengar dan kami taat”. (Mereka berdoa): “Ampunilah kami ya Tuhan kami dan kepada Engkaulah tempat kembali”.

لَا يُكَلِّفُ ٱللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا ۚ لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا ٱكْتَسَبَتْ ۗ رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَآ إِن نَّسِينَآ أَوْ أَخْطَأْنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَآ إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُۥ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِۦ ۖ وَٱعْفُ عَنَّا وَٱغْفِرْ لَنَا وَٱرْحَمْنَآ ۚ أَنتَ مَوْلَىٰنَا فَٱنصُرْنَا عَلَى ٱلْقَوْمِ ٱلْكَٰفِرِينَ

Lā yukallifullāhu nafsan illā wus’ahā, lahā mā kasabat wa ‘alaihā maktasabat, rabbanā lā tu`ākhiżnā in nasīnā au akhṭa`nā, rabbanā wa lā taḥmil ‘alainā iṣrang kamā ḥamaltahụ ‘alallażīna ming qablinā, rabbanā wa lā tuḥammilnā mā lā ṭāqata lanā bih, wa’fu ‘annā, wagfir lanā, war-ḥamnā, anta maulānā fanṣurnā ‘alal-qaumil-kāfirīn

286. Artinya: Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdoa): “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir”.

  • Membaca Surat Al Ikhlas 3 Kali

قُلْ هُوَ اللّٰهُ اَحَدٌۚ

Qul huwallāhu aḥad

1. Artinya: “Katakanlah (Muhammad), “Dialah Allah, Yang Maha Esa.”

اَللّٰهُ الصَّمَدُۚ

Allāhuṣ-ṣamad

2. Artinya: “Allah tempat meminta segala sesuatu.”

لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُوْلَدْۙ

Lam yalid wa lam yụlad

3. Artinya: “(Allah) tidak beranak dan tidak pula diperanakkan.”

وَلَمْ يَكُنْ لَّهٗ كُفُوًا اَحَدٌ

Wa lam yakul lahụ kufuwan aḥad

4. Artinya: “Dan tidak ada sesuatu yang setara dengan Dia.”

  • Membaca Surat Al Falaq 3 Kali

قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ

Qul a’udzu birabbil-falaq

1. Artinya: Katakanlah, “Aku berlindung kepada Tuhan yang menguasai subuh (fajar).

مِن شَرِّ مَا خَلَقَ

Min syarri ma khalaq

2. Artinya: dan kejahatan (makhluk yang) Dia ciptakan,

وَمِن شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ

Wa min syarri ghasiqin iza waqab

3. Artinya: dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita,

وَمِن شَرِّ النَّفَّاثَاتِ فِي الْعُقَدِ

Wa min syarrin-naffasati fil-‘uqad

4. Artinya: dan dari kejahatan(perempuan-perempuan) penyihir yang meniup pada buhul-buhul (talinya),

وَمِنْ شَرِّ حَاسِدٍ اِذَا حَسَدَ

Wa min syarri hasidin idza hasad

5. Artinya: dan dari kejahatan orang yang dengki apabila dia dengki.

  • Membaca Surat An Nas 3 Kali

قُلْ اَعُوْذُ بِرَبِّ النَّاسِۙ – ١

Qul a’ụżu birabbin-nās

1. Artinya: Katakanlah, “Aku berlindung kepada Tuhannya manusia,”

مَلِكِ النَّاسِۙ – ٢

Malikin-nās

2. Artinya: Raja manusia,

اِلٰهِ النَّاسِۙ – ٣

Ilāhin-nās

3. Artinya: Sembahan manusia,

مِنْ شَرِّ الْوَسْوَاسِ ەۙ الْخَنَّاسِۖ – ٤

Min sharril-waswāsil-khannās

4. Artinya: dari kejahatan (bisikan) setan yang bersembunyi,

الَّذِيْ يُوَسْوِسُ فِيْ صُدُوْرِ النَّاسِۙ – ٥

Allażī yuwas wisu fī ṣudụrin-nās

5. Artinya: yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia,

مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ ࣖ – ٦

Minal-jinnati wan-nās

6. Artinya: dari (golongan) jin dan manusia.

Bacaan istighfar:

أَسْتَغْفِرُ الله

Astaghfirullah

Artinya: “Aku memohon ampun kepada Allah.”

Bacaan tahlil:

لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ اَكْبَرُ

La ilaha illallah wallahu akbar

Artinya: “Tiada tuhan yang layak disembah kecuali Allah. Allah maha besar.”

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ وَارْحَمْهُ وَاعْفُ عَنْهُ وَعَافِهِ وَأَكْرِمْ نُزُلَهُ وَوَسِّعْ مُدْخَلَهُ وَاغْسِلْهُ بِمَاءٍ وَثَلْجٍ وَبَرَدٍ وَنَقِّهِ مِنْ الْخَطَايَا كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ الْأَبْيَضُ مِنْ الدَّنَسِ وَأَبْدِلْهُ دَارًا خَيْرًا مِنْ دَارِهِ وَأَهْلًا خَيْرًا مِنْ أَهْلِهِ وَزَوْجًا خَيْرًا مِنْ زَوْجِههِ وَقِهِ فِتْنَةَ الْقَبْرِ وَعَذَابَ النَّارِ

Allahummaghfirlahu war hamhu wa’fu ‘anhu wa ‘aafìhii, wa akrim nuzuulahu wawassi’ mudkholahu, waghsilhu bimaa’i wats-tsalji wal baradi, wa naqqihi minal khathaaya kamaa yunaqqatssaubul abyadhu minad danasi. Wa abdilhu daaran khairan min daarihi wa ahlan khairan min ahlihi wa zaujan khairan min zaujihi. Wa qihi fitnatal qabri wa ‘adzaban naar.

Artinya: “Ya Allah, berilah ampunan dan rahmat kepadanya. Berikanlah keselamatan dan berikanlah maaf kepadanya. Berikanlah kehormatan untuknya, luaskanlah tempat masuknya. Mandikanlah dia dengan air, es, dan embun. Bersihkanlah dia dari kesalahan sebagaimana Engkau bersihkan baju yang putih dari kotoran. Gantikanlah untuknya rumah yang lebih baik dari rumahnya, keluarga yang lebih baik dari keluarganya (di dunia), istri yang lebih baik dari istrinya. Dan jagalah ia dari fitnah kubur dan azab neraka.” (HR Muslim)

Adab Ziarah Kubur

Sebagai muslim kita wajib tahu tentang adab-adab ziarah sesuai tuntunan Rasulullah SAW agar ziarah bernilai pahala dan tidak mengundang murka Allah SWT. Mengutip Buku Pintar 50 Adab Islam karya Arfiani, berikut di antaranya:

1. Tidak Menabur Bunga

Hal ini tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah SAW dan para sahabatnya. Menurut para ulama, hal ini merupakan tradisi orang-orang kafir sebagai bentuk penghormatan kepada yang telah meninggal. Tidak sepantasnya kita mengikuti tradisi dan kebiasaan kaum kafir. Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka.” (HR Ahmad)

2. Tidak Menangis Berlebihan

Menangis diperbolehkan ketika ziarah kubur, karena Rasulullah SAW pun pernah menangis ketika menziarahi kubur ibunya. Namun, hendaknya tidak berlebihan seperti meratap dan meraung-raung.

3. Berziarah dalam Posisi Berdiri

Ketika berziarah muslim disunnahkan dalam keadaan berdiri dan berdoa pun dengan berdiri.

4. Tidak Duduk di Atas Pusara

Adab selanjutnya adalah tidak menduduki atau melewati bagian atas pusara kuburan. Rasulullah SAW bersabda, “Sungguh jika salah seorang dari kalian duduk di atas bara api sehingga membakar bajunya dan menembus kulitnya, itu lebih baik daripada duduk di atas kubur.” (HR Muslim). Sementara itu, jika berjalan di samping atau di antara pusara-pusara kubur, hal itu tidak apa-apa.

5. Menyiram Air di Atas Pusara

Hal ini boleh dilakukan berdasarkan hadits, “Sesungguhnya Rasulullah SAW menyiram (air) di atas kubur Ibrahim, anaknya, dan meletakkan kerikil di atasnya.” (HR Abu Daud)

6. Hindari Makan, Minum, Tertawa, dan Banyak Bicara

Selain itu, membaca Al-Qur’an dengan suara keras di pemakaman juga termasuk makruh. Apalagi lagi jika kita berfoto dan bergaya di pusara. Ziarah merupakan saat kita mengingat kematian ataupun memperlihatkan kesedihan kepada mayit dan keluarganya. Hindarilah perbuatan-perbuatan yang dapat mengurangi nilai ziarah itu sendiri.

7. Tidak Mengkhususkan Hari Tertentu

Misalnya harus berziarah pada hari Jumat, pada hari ketujuh kematian, pada hari raya, dan semacamnya. Sebab, sebenarnya ziarah kubur dapat dilakukan kapan saja.

Hukum Ziarah Kubur

Mengutip buku 30 Fatwa Seputar Ramadhan karya Abdul Somad, dijelaskan bahwa awalnya Rasulullah SAW melarang adanya ziarah kubur. Alasannya untuk memutus tradisi Jahiliah yang pada saat itu, orang-orang ketika ziarah kubur menyebut-nyebut nenek moyang dengan suasana gembira.

Lalu, Wawam Shofwan Sholehuddin dalam buku Risalah Shaum: Telaah Kritis atas Sunah-Sunah dan Bid’ah-Bid’ahnya menyebutkan setelah para sahabat memahami dengan baik konsep akidah Islamiyah yang lurus dan kuat, barulah Rasulullah SAW mengizinkan mereka untuk berziarah kubur sebagai pengingat kematian.

Rasulullah SAW bersabda dengan bentuk kata kerja perintah kepada mereka.

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ بُرَيْدَةَ عَنْ أَبِيهِ نَهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُورِ فَزُورُوهَا

Artinya: Dari Abdulah bin Buraedah, dari ayahnya, ia berkata, Rasulullah SAW bersabda: “Saya pernah melarang kalian berziarah kubur, sekarang, ziarahilah kuburan-kuburan itu”. Dalam lafal yang lain terdapat tambahan kata “kuntu nahaytukum, saya pernah melarang kalian”.

Mayoritas ulama sepakat bahwa sebuah perintah untuk mengerjakan sesuatu yang muncul setelah adanya larangan, hukumnya menjadi mubah atau boleh. Dengan kaidah ini, hukumnya berziarah kubur tidak lagi dipandang sebagai sesuatu yang haram. Sebaliknya, ziarah kubur menjadi amalan yang dianjurkan atau sunnah.

Wallahu a’lam.

(rah/rah)



Sumber : www.detik.com

Doa Arwah Lengkap Laki-laki dan Perempuan Arab-Latin


Jakarta

Bacaan doa arwah ini bisa diamalkan untuk mendoakan keluarga atau kerabat yang telah wafat. Di Indonesia, biasanya doa arwah ini dibacakan pada acara tahlilan.

Mengutip buku Ayah Ibu Kubangunkan Surga Untukmu: Amalan-amalan Dahsyat Untuk Orangtua yang Sudah Meninggal karya Muhammad Abdul Hadi, dalam mengirimkan doa kepada orang yang meninggal dunia, ada bacaan-bacaan tertentu yang disusun dari ayat-ayat Al-Qur’an dan doa-doa.

Acara tahlilan biasanya digelar berbarengan dengan pembacaan surah Yasin selama tujuh hari berturut-turut sejak hari pertama jenazah dimakamkan. Setelah itu, tahlilan kembali digelar pada hari meninggal ke-40, ke-100, dan hari ke-1000.


Tahlilan kembali digelar ketika haul, yakni peringatan meninggalnya seseorang.

Hukum melaksanakan tahlilan adalah boleh dalam syariat Islam karena semua acara yang ada dalam rangkaian tradisi tahlil tidak ada sesuatu apapun yang terlarang. Adapun urutan doa arwah ini dijelaskan juga dalam Quran Nahdlatul Ulama (NU).

Urutan Bacaan Doa Arwah Arab, Latin, dan Artinya

  • Membaca Pengantar Surat Al Fatihah

اِلَى حَضْرَةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ وَاَلِهِ وصَحْبِهِ شَيْءٌ لِلهِ لَهُمُ الْفَاتِحَةُ

Ila hadrotin nabiyu shallallahu ‘alaihi wasallam, wa alihi wa shohbihi syaiun lillahi lahumul fatihah

Artinya: “Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Untuk yang terhormat Nabi Muhammad SAW, segenap keluarga, dan para sahabatnya. Bacaan Al-Fatihah ini kami tujukan kepada Allah dan pahalanya untuk mereka semua. Al-Fatihah…”

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ. اَلْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. اَلرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ. مَالِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ. اِيَّاكَ نَعْبُدُ وَاِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ. اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الَّمُسْتَقِيْمَ. صِرَاطَ الَّذِ يْنَ اَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّيْنَ. اَمِينْ

Bismillaahirrohmaanirrohiim. Alhamdulillaahi robbil aalamiin. Ar Rohmaanir rohiim. Maliki Yaumiddin. Iyya Kana’budu wa iyyaka nasta’in. Ihdinash shiroothol mustaqiim. Shirathal ladziina an’amta’ alaihim ghairil maghdubi alaihim waladhaalin.

Artinya: “Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, Pemilik hari Pembalasan. Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan. Bimbinglah kami ke jalan yang lurus,”

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ. قُلْ هُوَ اللهُ اَحَدٌ. اَللهُ الصَّمَدُ. لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُوْلَدْ. وَلَمْ يَكٌنْ لَهُ كُفُوًا اَحَدٌ

Bismillaahirrohmaanirrohiim. Qul huwallahu ahad, allahu samad, lam yalid walam yalid, walam yakul lahu kufuwan ahad (3X)

Artinya: “Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Katakanlah (Nabi Muhammad), Dialah Allah Yang Maha Esa. Allah tempat meminta segala sesuatu. Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan, serta tidak ada sesuatu pun yang setara dengan-Nya.”

  • Membaca Tahlil dan Takbir

لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ اَكْبَرُ

Laa ilaaha illallahu, Allahu Akbar

Artinya: “Tiada tuhan yang layak disembah kecuali Allah. Allah Maha Besar.”

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ. قُلْ اَعُوْذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ. مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ. وَمِنْ شَرِّ غَاسِقٍ اِذَا وَقَبَ. وَمِنْ شَرِّ النَّفَاثاتِ فِى الْعُقَدِ. وَمِنْ شَرِّ حَاسِدٍ اِذَا حَسَدَ

Bismillaahirrohmaanirrohiim. Qul a’udzu birabbil falaq. Min Syarri maa khalaq. Wamin Syarri ghaasiqin idzaa waqob. Wamin Syarri Nafasati Fil uqad. Wamin Syarril hasidin idza hasad.

Artinya: “Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Katakanlah (Nabi Muhammad), “Aku berlindung kepada Tuhan yang (menjaga) fajar (subuh) dari kejahatan (makhluk yang) Dia ciptakan, dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita, dari kejahatan perempuan-perempuan (penyihir) yang meniup pada buhul-buhul (talinya), dan dari kejahatan orang yang dengki apabila dia dengki.”

  • Membaca Tahlil dan Takbir

لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ اَكْبَرُ

Laa ilaaha illallahu, Allahu Akbar

Artinya: “Tiada tuhan yang layak disembah kecuali Allah. Allah Maha Besar.”

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ. قُلْ اَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ. مَلِكِ النَّاسِ. اِلَهِ النَّاسِ. مِنْ شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ. الَّذِى يُوَسْوِسُ فِى صُدُوْرِ النَّاسِ. مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ

Bismillaahirrohmaanirrohiim. Qul a’uudzu birabbi nnaas. Malikinnaas. Ilaahinnaas. Min Syarril was waasil khannas. Alladzi yuwas wisufi sudurinnas. Minal jinnati wannaas.

Artinya: “Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Katakanlah (Nabi Muhammad), “Aku berlindung kepada Tuhan manusia, raja manusia, sembahan manusia dari kejahatan (setan) pembisik yang bersembunyi yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia, dari (golongan) jin dan manusia.”

  • Membaca Tahlil dan Takbir

لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ اَكْبَرُ

Laa ilaaha illallahu, Allahu Akbar

Artinya: “Tiada tuhan yang layak disembah kecuali Allah. Allah Maha Besar.”

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ. اَلْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. اَلرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ. مَالِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ. اِيَّاكَ نَعْبُدُ وَاِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ. اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الَّمُسْتَقِيْمَ. صِرَاطَ الَّذِ يْنَ اَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّيْنَ. اَمِينْ

Bismillaahirrohmaanirrohiim. Alhamdulillaahi robbil aalamiin. Ar Rohmaanir rohiim. Maliki Yaumiddin. Iyya Kana’budu wa iyyaka nasta’in. Ihdinash shiroothol mustaqiim. Shirathal ladziina an’amta’ alaihim ghairil maghdubi alaihim waladhaalin.

Artinya: “Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, Pemilik hari Pembalasan. Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan. Bimbinglah kami ke jalan yang lurus,”

المّ. ذَلِكَ الكِتابُ لاَرَيْبَ فِيْهِ هُدَى لِلْمُتَّقِيْنَ. الَّذِيْنَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيْمُونَ الصَّلَاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ. وَالَّذِيْنَ يُؤْمِنُونَ بِمَا اُنْزِلَ اِلَيْكَ وَمَا اُنْزِلَ مِن قَبْلِكَ وَبِالْاَخِرَةِ هُمْ يُوقِنُونَ. اُولَئِكَ عَلَى هُدًى مِّن رَّبِّهِمْ، وَاُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ .

Alif laam miim. Dzaalikal kitaabu laa raiba fiihi hudan lil muttaqin. Alladziina yu’minuuna bil ghoibi wayukimunas sholata wa mimma rozakna hum yunfiquuna. Walladziina yu’minuuna bimaa unzila ilaika wamaa unzila minqoblika wabil aakhirati hum yuuqinuun. Ulaaika’ min rabbihim wa ulaika humul muflihuun.

Artinya: “Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Alif Lām Mīm. Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan di dalamnya; (ia merupakan) petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang beriman pada yang gaib, menegakkan salat, dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka, dan mereka yang beriman pada (Al-Qur’an) yang diturunkan kepadamu (Nabi Muhammad) dan (kitab-kitab suci) yang telah diturunkan sebelum engkau dan mereka yakin akan adanya akhirat. Merekalah yang mendapat petunjuk dari Tuhannya dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.”

Membaca Surat Al Baqarah Ayat 163

وَاِلَهُكُمْ اِلَهٌ وَّاحِدٌ لاَ اِلَهَ اِلاَّ هُوَ الرَّحْمَنُ الرَّحِيمُ

Wa ilaahukum ilaahuw waahid, laa ilaaha illaa huwar-rahmaanur-rahiim

Artinya: “Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa. Tidak ada tuhan selain Dia Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.”

اللهُ لاَ اِلَهَ اِلاَّ هُوَ الْحَىُّ الْقَيُّومُ، لاَ تَاْ خُذُهُ سِنَةٌ وَلاَ نَوْمٌ، لَّهُ مَا فِى السَّمَوَاتِ وَمَا فِى الْاَرْضِ، مَنْ ذَا الَّذِى يَشْفَعُ عِنْدَهُ اِلاَّ بِاِذْنِهِ، يَعْلَمُ مَا بَينَ اَيْدِيْهِمِ وَمَا خَلْفَهُمْ، وَلاَ يُحْيِطُونَ بِشَيْءٍ مِّنْ عِلْمِهِ اِلاَّ بِمَا شَاءَ، وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَوَاتِ وَالْاَرْضَ، وَلاَ يَئُودُهُ حِفْظُهُمُا، وَهُوَ الْعَلِىُّ الْعَظِيْمُ

Allahu laa ilaaha illaa huwal-hayyul-qayyum, laa ta’khudzuhu sinatuw wa laa naum, lahu maa fis-samaa waati wama fil-ar, man dzal ladzii yasyfa’u ‘indahuu illaa bi’idznih, ya’lamu maa baina aidiihim wamaa khalfahum, wala yuhituna bisya’in min ‘ilmihii illaa bimaa syaa’, wasi’a kursiyyuhus-samaawaati wal-ard, wala ya’uduhu hifzuhumaa, wa huwal-‘aliyyul-‘aziim.

Artinya: “Allah, tidak ada tuhan selain Dia, Yang Maha Hidup lagi terus-menerus mengurus (makhluk-Nya). Dia tidak dilanda oleh kantuk dan tidak (pula) oleh tidur. Milik-Nyalah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Tidak ada yang dapat memberi syafaat di sisi-Nya tanpa izin-Nya. Dia mengetahui apa yang ada di hadapan mereka dan apa yang ada di belakang mereka. Mereka tidak mengetahui sesuatu apa pun dari ilmu-Nya, kecuali apa yang Dia kehendaki. Kursi-Nya (ilmu dan kekuasaan-Nya) meliputi langit dan bumi. Dia tidak merasa berat memelihara keduanya. Dialah yang Maha Tinggi lagi Maha Agung.”

لِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ ۗ وَإِنْ تُبْدُوا مَا فِي أَنْفُسِكُمْ أَوْ تُخْفُوهُ يُحَاسِبْكُمْ بِهِ اللَّهُ ۖ فَيَغْفِرُ لِمَنْ يَشَاءُ وَيُعَذِّبُ مَنْ يَشَاءُ ۗ وَاللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

آمَنَ الرَّسُولُ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِ مِنْ رَبِّهِ وَالْمُؤْمِنُونَ ۚ كُلٌّ آمَنَ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِنْ رُسُلِهِ ۚ وَقَالُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا ۖ غُفْرَانَكَ رَبَّنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ

لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا ۚ لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ ۗ رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِ ۖ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا ۚ أَنْتَ مَوْلَانَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ

Lillahi maa fis samaawaati wamaa fil ardli, wa in tubduu maa fii anfusikum autukhfuuhu yuhaasibkum bihillaah. Fa yaghfiru limay yasyaa u wa yu’adzibu man yasyaa wallaahu ‘alaa kulli syai-in qadiir.

Aamanar rasuulu bimaa unzila ilaihi mirrabbihii wal muu’minuun kullun amana billahi wa malaikatihi wa kutubihi wa rusulihi, laa nufarriqu baina ahadin min rusulihi waqaaluu sami’naa wa atha’naa ghufraanaka rabbanaa wa ilaikal mashiir.

Laa yukallifullaahu illaa wus ‘ahaa, lahaa maa kasabat wa ‘alaihaa maktasabat, rabbanaa laa tu’aakhidznaa in nasiinaa au akhtha’naa, rabbanaa walaa tahmil ‘alainaa ishran kamaa hamaltahu ‘alalladziina min qablina, rabbanaa walaa tuhammilnaa maa laa thaaqata lanaa bihii. (Wa’fu ‘annaa, waghfir-lanaa warhamnaa) anta maulaanaa ‘alal qaumil kaafiriin.

Artinya: “Milik Allahlah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Jika kamu menyatakan apa yang ada di dalam hatimu atau kamu menyembunyikannya, niscaya Allah memperhitungkannya bagimu. Dia mengampuni siapa saja yang Dia kehendaki dan mengazab siapa pun yang Dia kehendaki. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Rasul (Muhammad) beriman pada apa (Al-Qur’an) yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang mukmin. Masing-masing beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab kitab-Nya, dan rasul-rasul-Nya. (Mereka berkata,) “Kami tidak membeda-bedakan seorangpun dari rasul-rasul-Nya.” Mereka juga berkata, “Kami dengar dan kami taat. Ampunilah kami, wahai Tuhan kami. Hanya kepada-Mu tempat (kami) kembali.”

Allah tidak membebani seseorang, kecuali menurut kesanggupannya. Baginya ada sesuatu (pahala) dari (kebajikan) yang diusahakannya dan terhadapnya ada (pula) sesuatu (siksa) atas (kejahatan) yang diperbuatnya. (Mereka berdoa,) “Wahai Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami salah. Wahai Tuhan kami, janganlah Engkau bebani kami dengan beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Wahai Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tidak sanggup kami memikulnya. Maafkanlah kami, ampunilah kami, dan rahmatilah kami. Engkaulah pelindung kami. Maka, tolonglah kami dalam menghadapi kaum kafir.”

إِرْحَمْنَا يَاأَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

Irhamna ya arhamarrohimin

Artinya: “Kasihani kami, wahai Tuhan yang Maha Pengasih.” (3 kali)

Dilanjut dengan bacaan berikut,

رَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ عَلَيْكُمْ أَهْلَ الْبَيْتِ إِنَّهُ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

Rahmatullahi wa barakatuh ‘alaikum ahlal baiti innahu hamiidun majiid.

Artinya: “Rahmat dan berkah Allah (yang) dicurahkan kepada kamu, wahai ahlulbait! Sesungguhnya Dia Maha Terpuji lagi Maha Mulia.”

إِنَّمَا يُرِيْدُ اللهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيْرًا

Innamaa yuridullahu liyudhiba ‘ankumurrijsa ahlal baiti wa yuthohhirakum tathhiiran

Artinya: “Sesungguhnya Allah hanya hendak menghilangkan dosa darimu, wahai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.”

إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِي يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ أمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمَا

Innallaha wa malaaikatahu yusholluuna ‘alan nabiyyi yaa ayyuhalladziina aamanuu shollu ‘alaihi wasallimu tasliimaa

Artinya: “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bersholawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bersholawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya.”

  • Membaca Sholawat Nabi 3 Kali

أَللّهُمَّ صَلِّ أَفْضَلَ الصَّلاَةِ عَلَى أَسْعَدِ مَخْلُوْقَاتِكَ نُوْرِ الْهُدَى سَيِّدِنَا وَمَوْلاَناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدْ. عَدَدَ مَعْلُوْمَاتِكَ وَمِدَادَ كَلِمَاتِكَ كُلَّمَا ذَكَرَكَ الذَّاكِرُوْنَ. وَغَفَلَ عَنْ ذِكْرِكَ الْغَافِلُوْنَ.

Allahumma sholli afdholas sholati ‘ala as’adi makhluqotika nuril huda sayyidinaa wa maulanaa muhammadin wa ‘ala alihi sayyidinaa muhammad. ‘Adadama ma’lumaatika wa midaada kalimaatika kullamaa dzakaraka rzaakirun. Wa ghofala ‘andzikrikal ghoofiluun

Artinya: “Ya Allah, tambahkanlah rahmat dan kesejahteraan untuk pemimpin dan tuan kami Nabi Muhammad SAW, serta keluarganya, sebanyak pengetahuan-Mu dan sebanyak tinta kalimat-kalimat-Mu pada saat zikir orang-orang yang ingat dan pada saat lengah orang-orang yang lalai berzikir kepada-Mu.”

وَسَلِّمْ وَرَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْ اَصْحَابِ سَيِّدِنَا رَسُوْلِ اللهِ اَجْمَعِيْنَ

Wasallim waradhiyallagu ta’ala ‘an ash haabi sayyidina rasulillahi ajma’in

Artinya: “Semoga Allah yang Maha Suci dan tinggi meridhoi para sahabat dari pemimpin kami (Rasulullah).”

حَسْبُنَا اللهُ وَنِعْمَ الْوَكِيْلُ

Hasbunallah wani’mal wakiil

Artinya: “Cukuplah Allah (menjadi penolong) bagi kami dan Dia sebaik-baik pelindung.”

نِعْمَ الْمَوْلَى وَنِعْمَ النَّصِيْرُ

Ni’mal maula wani’man nashiir

Artinya: “Dia adalah sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong.”

وَلَاحَوْلَ وَلَا قُوَّةَ اِلَّا بِاللهِ العَلِيِّ الْعَظِيْمِ

Walaa haula walaa quwwata illa billahil ‘aliyyil ‘adhiim

Artinya: “Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah yang Maha Tinggi dan agung.”

اَسْتَغْفِرُاللهَ الْعَظِيْمَ

Astaghfirullahal ‘adziim

Artinya: “Saya mohon ampun kepada Allah yang Maha Agung.” (3 kali).

Doa arwah juga dilengkapi dengan bacaan doa tahlil. Berikut bacaan lengkapnya:

أَعُوْذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّحِيْمِ بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ حَمْدَا الشَّاكِرِينَ حَمْدَ النَّاعِمِينَ حَمْدًا يُوَافِى نِعَمَهُ وَيُكَافِئُ مَزِيدَهُ يَارَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ كَمَا يَنْبَغِي لِحَلالِ وَجْهِكَ وَعَظِيْمِ سُلْطَانِكَ اللهُمَّ صَلّ وَسَلَّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ اللَّلهُمَّ تَقَبَّلْ وَاَوْصِلْ ثَوَابَ مَا قَرَأْنَاهُ مِنَ الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ وَمَا هَلَّلْنَا وَمَا سَبَّحْنَا وَمَا اسْتَغْفَرْنَا وَمَا صَلَّيْنَا عَلَى سَيّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هَدِيَّةٌ وَاصِلَةً وَرَحْمَةً نَازِلَةٌ وَبَرَكَةٌ شَامِلَةٌ وَصَدَقَةٌ مُتَقَبَّلَةٌ نُقَدِّمُ ذَلِكَ وَنُهْدِيهِ إِلَى حَضَرَاتِ حَبِينَا وَشَفِيعِنَا وَقُرَّة أَعْيُنِنَا سَيِّدنَا وَمَوْلاَنَا مُحَمَّد صَلَّى اللهُ عَلَيْه وَسَلَّمَ وَإِلَى جَمِيعِ إِخْوَانِهِ مِنَ الأَنْبِيَاءِ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِيْنَ وَالصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِينَ وَالْعُلَمَاءِ وَالْعَامِلِينَ وَالْمُصَنِّفِيْنَ وَالْمُخْلِصِيْنَ وَجَمِيعِ الْمُجَاهِدِيْنَ فِى سَبِيلِ اللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ وَالْمَلَائِكَة الْمُقَرَّبِينَ ثُمَّ إِلَى جَمِيعِ أَهْلِ القُبُوْرِ مِنَ المسلمينَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِينَ والْمُؤْمِنَات مِنْ مَشارِقِ الأَرْضِ وَمَغَارِبِهَا بَرْهَا وَبَحْرِهَا خُصُوصًا إِلَى أَبَاتِنَا وَأُمَّهَاتِنَا وَأَجْدَادِنَا وَجَدَّاتِنَا وَنَخُصُّ خُصُوصًا إِلَى مَنِ اجْتَمَعْنَا هُهُنَا بِسَبَبِهِ وَلأَجْلِهِ اللَّهُمَّ اغْفِرْلَهُمْ وَارْحَمْهُمْ وَعَافِهِمْ وَاعْفُ عَنْهُمْ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِحَيْنَا وميتنَا وَشَاهِدِنَا وَغَائِبِنَا وَصَغَيْرنَا وَكَبِيْرنَا وَذَكَرنَا وَأَنْتَانَا اللَّهُمَّ مَنْ أَحْيَيْتَهُ مِنَّا فَأَحْيِهِ عَلَى الإِسْلَامِ وَمَنْ تَوَفَّيْتَهُ مِنَّا فَتَوَفَّهُ عَلَى الإِيْمَانِ اللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِيْنَنَا الَّذِي هُوَ عِصْمَةٌ أَمْرِنَا وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَا الَّتِي فِيْهَا مَعَاشُنَا وَأَصْلِحْ لَنَا أَحْرَتَنَا الَّتِي إِلَيْهَا مَعَادُنَا وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لَنَا فِي كُل خَيْرٍ وَاجْعَلِ الْمَوْتَ رَاحَةً لَنَا مِنْ كُلِّ شَرِّ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي كُل خَيْرٍ وَاجْعَلِ الْمَوْتَ رَاحَةً لَنَا مِنْ كُلِّ شَرِّ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفى الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ . اَلْفَاتِحَةُ

A’uudzubillaahiminasyaithaanir rajiim. Bismillaahir rahmaanir rahiim. Alhamdulillaahi robbil ‘aalamiin. Hamdan syaakriin, hamdan naa’imiin. Hamdan yuwaafii ni’amahu wayukaafi`u maziidah. Yaa rabbanaa lakal hamdu kamaa yanbagii lijalaali wajhika wa ‘azhiimi sulthaanik. Allaahumma shalli wa sallim ‘alaa sayyidinaa Muhammadin wa ‘ala aali sayyidinaa Muhammad. Allaahumma taqobbal wa aushil tsawaba maa qoro’naahu minal qur’aanil ‘azhiimi wamaa hallalnaa wa maa sabbahnaa wa mastaghfarnaa wa maa shollainaa ‘alaa sayyidinaa muhammadin shollalloohu ‘alaihi wa sallama hadiyyatan waashilatan wa rohmatan naazilatan wa barokatan syaamilatan ilaa hadhrotin habiibinaa wa syafii’inaa wa qurroti a’yuninaa sayyidinaa wa maulaanaa muhammadin shollallaahu ‘alaihi wa sallam, wa ilaa jamii’i ikhwaanihii minal anbiyaa’i walmursaliina wal auliyaa’i wasy-syuhadaa’i wash-shoolihiina wash shohaabati wattaabi’iina wal ‘ulamaa’il ‘aalimiina wal mushonnifiinal mukhlishiina wa jamii’il mujaahidiina fii sabiilillaahi robbil’aalamiin, wa malaa’ikatil muqorrobiin. tsumma ilaa jamii’i ahlil qubuur minal muslimiina walmuslimaati walmu`miniina walmu`minaati min masyaariqil ardhi wamaghaaribihaa barrihaa wa bahrihaa, khushushan abaa`naa wa`ummahaatinaa wa`ajdaadanaa wajaddaatinaa wanakhushu khushushan manijtama’naa hahunaa bisababihi wali ajlihi. Allaahummagh firlahum warhamhum wa’aafihim wa’fu ‘anhum. Allaahummaghfir lihayyinaa wamayyitinaa wasyaahidinaa waghaa ibinaa washaghiirinaa wakabiirinaa wadzakarinaa wauntsaanaa Allaahumma man ahyaitahu minnaa fa-‘ahyihi ‘alal islaam, waman tawafaitahu minnaa fatawaffahu ‘alal iimaan. Allaahumma ashlih lanaa diinanal ladzii huwa ‘ishmatu amrinaa, wa ashlih lanaa dun-yaanal latii fiihaa ma’aasyunaa, wa ashlih lanaa akhiratanaal latii ilaihaa ma’aadunaa, waj-‘alil hayaata ziyaadatan lanaa fii kulli khairin, waj-‘alil mauta raahatan lanaa min kulli syarrin. Rabbanaa aatinaa fiddun- yaa hasanah, wafil aakhiroti hasanah, waqinaa ‘adzaaban naar. Washallallaahu ‘alaa sayyidinaa muhammadin wa ‘alaa aalihi washohbihi wasallam. Subhaanaka rabbika rabbil ‘izzati ‘ammaa yashifuun. Wasalaamun ‘alal mursaliin, walhamdu lillaahir rabbil ‘aalamiin. Alfaatihah.

Artinya: Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk. Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah. Tuhan semesta alam. Sebagaimana orang-orang yang bersyukur, dan orang-orang yang memperoleh nikmat sama memuji, dengan puji yang sebanding dengan nikmat-nikmat-Nya dan menjamin tambahannya. Wahai Tuhan kami, hanya bagi-Mu segala puji, sebagaimana apa yang patut bagi keluhuran Dzat-Mu dan keagungan kekuasaan- Mu. Ya Allah, berilah rahmat dan keselamatan atas penghulu kami, Nabi Muhammad dan keluarganya. Ya Allah, terimalah dan sampaikanlah pahala Al-Qur’an yang kami baca, tahlil kami, tasbih kami, istighfar kami dan sholawat kami kepada Nabi Muhammad SAW sebagai hadiah yang menjadi penyambung, sebagai rahmat yang turun dan sebagai berkah yang menyebar kepada kekasih kami, penolong kami dan buah hati kami, pemuka dan pemimpin kami, yaitu Nabi Muhammad SAW, juga kepada seluruh sahabat baginda dalam kalangan para Nabi dan Rasul, para wali, para syuhada, orang soleh, para sahabat, para tabiin, para ulama yang mengamalkan ilmunya, para pengarang yang ikhlas dan orang yang berjihad di jalan Allah Tuhan semesta alam, serta para malaikat yang selalu beribadah. Kemudian juga kepada seluruh ahli kubur dari kaum muslimin, muslimat, mukminin, mukminat dari belahan bumi sebelah timur dan barat, baik yang di daratan maupun yang di lautan, khususnya, kepada bapak dan ibu kami, kakek dan nenek kami, dan kepada orang yang menyebabkan kami semua dapat berkumpul di sini dan untuk keperluannya. Ya Allah, ampuni dan rahmatilah mereka, selamatkanlah dan maafkanlah kesalahan mereka. Ya Allah, ampunilah yang hidup di antara kami dan yang telah wafat, yang hadir (di tempat ini) dan yang tidak hadir, yang kecil maupun yang besar, laki- laki maupun perempuan. Ya Allah, siapa yang hidup di antara kami, maka hidupkanlah ia dalam keislaman dan yang wafat, wafatkanlah dalam keadaan iman. Ya Allah, luruskanlah kehidupan beragama kami, karena itulah pegangan kami dalam segala persoalan, sejahterakanlah dunia kami, karena di sanalah kehidupan kami (serta sarana pengabdian kami). Bahagiakanlah kehidupan akhirat kami karena ke sanalah tempat kami kembali. Jadikanlah kehidupan (kami) bersinambung di dalamnya segala macam kebajikan, dan kematian kami (kelak setelah usia yang panjang) akhir dari segala petaka. Wahai Tuhan kami, berilah kami kebahagiaan di dunia dan kebahagiaan di akhirat serta selamatkanlah kami dari siksa neraka. Semoga rahmat dan kesejahteraan selalu tercurah kepada junjungan kami Nabi Muhammad, para keluarga, dan sahabat beliau. Maha Suci Tuhanku, Tuhan yang bersih dari apa yang mereka (orang-orang kafir) katakan. Dan kesejahteraan semoga senantiasa dilimpahkan kepada para utusan Allah. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Alfatihah… (kemudian baca surah Al-Fatihah).

Adapun bacaan doa tahlil versi pendek sebagai berikut:

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ حَمْدًا يُوَافِي نِعَمَهُ وَيُكَافِئُ مَزِيْدَهُ. يَا رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ كَمَا يَنْبَغِي لِجَلَالِ وَجْهِكَ سُلْطَانِكَ. سُبْحَانَكَ لَا تُحْصِي ثَنَاءَ عَلَيْكَ أَنْتَ وَعَظِيمٍ كَمَا أَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِكَ فَلَكَ الْحَمْدُ قَبْلَ الرّضَى وَلَكَ الْحَمْدُ بَعْدَ الرّضَى وَلَكَ الْحَمْدُ إِذَا رَضِيْتَ عَنَّا دَابِما أَبَدًا

Alhamdu lillaahi rabbil ‘aalamiin hamday yuwaafii ni-amahu wa yukaafi-u maziidah. Yaa rabaanaa lakal hamdu kamaa yambaghii lijalaali wajhika wa ‘azhiimi sulthaanik. Subhaanaka laa nuhshii tsanaa-a ‘alaika anta kamaa atsnaita ‘alaa nafsika falakal hamdu qablar ridha wa lakal hamdu badar ridha wa lakal hamdu idzaa radhiita annaa daa-iman abadaa.

Artinya: “Segala puji bagi Allah, Tuhan seru sekalian alam, sebagaimana orang-orang yang bersyukur dan orang yang memperoleh nikmat sama memuji, dengan pujian yang sesuai dengan nikmatnya dan memungkinkan di tambah nikmatnya. Tuhan kami, hanya bagi-Mu segala puji sebagaimana pujian yang layak bagi kemuliaan dan keagungan kekuasaan-Mu.”

Doa Arwah untuk Ibu

Mengutip buku Kumpulan Doa Kebajikan Untuk Anak karya Ajen Dianawati, berikut bacaan doa arwah yang dikhususkan untuk ibu yang telah wafat.

اللَّهُمَّ اجْعَلْ وَأَوْصِلْ دُعَائِي إِلَى رُوْحِ أُمّي اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهَا وَرْحَمْهَا وَعَافِهَا وَاعْفُ عَنْهَا وَأَكْرِمْ نُزُلَهَا وَوَسِعْ مَدْخَلَهَا وَتَقَبَّلْ حَسَنَاتِهَا وَكَفِّرْ سَيِّئَاتِهَا بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ

Allaahummaj’al wa aushil du’aaii ilaaruuhi ummii allaahummaghfir lahaa warhamhaa wa’ aafihaa wa’fu ‘anhaa wa akrim nuzulahaa wawassi’ madkhalahaa wataqabbal hasanaati haawakaffir sayyi-aatihaa birahmatika yaa arhamarraahimiina

Artinya: “Ya Allah, jadikanlah dan sampaikanlah doaku kepada roh ibuku Ya Allah ampunilah dosanya, kasihanilah dan sejahterakanlah dia, maafkanlah kesalahannya, muliakanlah kedatangannya, lapangkanlah kuburnya, terimalah kebaikannya, hapuskanlah hapuskanlah kesalahannya dengan rahmat-Mu, Ya Allah, Tuhan Yang Maha Pengasih.”

Doa Arwah untuk Ayah

Masih merujuk sumber yang sama, berikut bacaan doa arwah yang dikhususkan untuk ayah yang sudah wafat.

اللَّهُمَّ اجْعَلْ وَأَوْصِلْ دُعَائِي إِلَى رُوْحِ أَبِي اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ وَرْحَمْهُ وَعَافِهِ وَاعْفُ عَنْهُ وَأَكْرِمْ نُزُلَهُ وَوَسِعْ مَدْخَلَهُ وَتَقَبَّلْ حَسَنَاتِهِ وَكَفِّرْ سَيِّئَاتِهِ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ

Allaahummaj’al wa awshil du’aaii ilaaruuhi abii allaahummaghfir lahu warhamhu wa ‘aafihii wa’fu ‘anhu wa akrim nuzulahu wawassi’ madkhalahu wataqabbal hasanaatihi wakaffir sayyi-aatihii birahmatika yaa arhamar raahimiina

Artinya: “Ya Allah, jadikanlah dan sampaikanlah doaku kepada roh ayahku. Ya Ya Allah, ampunilah dosanya, kasihanilah dan sejahterakanlah dia, maafkanlah kesalahannya, muliakanlah kedatangannya, lapangkanlah kuburnya, terimalah kebaikannya, hapuskanlah kesalahannya dengan rahmat-Mu, Ya Allah, Tuhan Yang Maha Pengasih.”

Wallahu a’lam.

(rah/rah)



Sumber : www.detik.com

Ipar Adalah Maut Disebut dalam Hadits Nabi, Begini Bunyinya


Jakarta

Baru-baru ini, film Ipar Adalah Maut ramai diperbincangkan masyarakat Indonesia. Menariknya, judul dari film itu ternyata disebutkan dalam sebuah hadits Rasulullah SAW.

Pada dasarnya, Islam memberi batas-batas tertentu bagi individu dalam berhubungan khususnya bagi mereka yang sudah menikah. Ini dimaksudkan agar tidak menimbulkan kecemburuan bagi pihak suami maupun istri.

Mengutip buku Wanita-wanita dalam Al-Qur’an susunan Abdurrahman Umairah, Islam memberi aturan dalam masalah cemburu. Dalam kaitannya, istri tidak diperbolehkan membawa seseorang masuk ke rumahnya, baik itu wanita maupun pria, hubungan dekat maupun jauh kecuali atas izin sang suami. Sebab, suami dianggap lebih paham dengan kemaslahatan rumah tangganya.


Sama halnya dengan suami. Nabi Muhammad SAW melarang para suami berduaan dan menemui wanita yang bukan mahramnya, termasuk ipar sebagaimana disebutkan dalam haditsnya.

Bunyi Hadits Ipar Adalah Maut

Berikut bunyi hadits yang menyatakan ipar adalah maut seperti dinukil dari buku Fiqih Perempuan Kontemporer susunan Farid Nu’man.

Dari Uqbah bin Amir, ia berkata Rasulullah SAW bersabda:

“Hindarkanlah diri kalian masuk menemui wanita (non mahram).” Lalu seorang laki-laki dari Anshar berkata, “Wahai Rasulullah, bagaimanakah pendapat engkau tentang ipar?” Beliau bersabda, “Ipar itu maut (berdua dengannya lebih mengkhawatirkan, bagaikan bertemu dengan kematian).” (HR Bukhari)

Makna Hadits Ipar Adalah Maut

Masih dari sumber yang sama, dikatakan dalam al-Mausu’ah al-Fiqhyyah al-Kuwaitiyah mengenai hadits di atas bahwa perkataan ipar itu maut merupakan penguatan larangan karena Nabi Muhammad SAW paham bahwa orang yang bertanya menghendaki keringanan dari tindakan berduaan dengan iparnya tanpa ditemani mahram.

Hadits tersebut menunjukkan bahwa keharaman berduaan dengan lawan jenis yang bukan mahram meskipun ia adalah saudara ipar sendiri. Dari Imam Abu al-Abbas al-Qurthubi mengatakan,

“(Ipar) diserupai dengan maut (kematian) dalam hal keburukan dan kerusakannya, yakni hal itu adalah sesuatu yang haram, dan keharamannya sudah diketahui.” (Imam Ibnu Hajar dalam Fathul Bari)

Diterangkan dalam buku Kepribadian Wanita Muslimah oleh Muhammad Ali al-Hasyimi, saudara ipar dianggap setara dengan maut karena kekejian lebih banyak datang dari mereka daripada yang lain. Penyebabnya karena sebagai saudara ipar, mereka bisa bebas keluar masuk rumah saudaranya.

Kata “maut” dalam hadits itu digunakan sebagai penekanan atau peringatan keras bahwa berkhalwat dengan saudara ipar akan mendatangkan kerusakan dan kebinasaan. Naudzubillah min dzalik.

(aeb/kri)



Sumber : www.detik.com

Bacaan Doa Buka Puasa Ayyamul Bidh Latin Hari ke-1 hingga 3


Jakarta

Puasa Ayyamul Bidh adalah salah satu puasa sunah yang bisa dilakukan umat Islam. Bagi muslim yang mengerjakannya bisa membaca doa buka puasa Ayyamul Bidh saat tiba waktu berbuka.

Mengutip buku Dahsyatnya Puasa Wajib & Sunah Rekomendasi Rasulullah karya Amirulloh Syarbini & Sumantri Jamhari, puasa Ayyamul Bidh atau puasa hari-hari putih adalah puasa sunah yang dikerjakan setiap tanggal 13, 14, dan 15 bulan Kamariah. Puasa Ayyamul Bidh sangat dianjurkan oleh Rasulullah SAW, sebagaimana nasihat beliau pada Abu Dzar al-Ghifari,

“Hai Abu Dzar, kalau kau hendak berpuasa sunah setiap bulan, lakukanlah puasa pada tanggal 13, 14, dan 15.” (HR Tirmidzi)


Doa Buka Puasa Ayyamul Bidh

Salah satu sunah dalam puasa adalah membaca doa ketika berbuka. Dinukil dari buku Sukses Dunia-Akhirat dengan Doa-Doa Harian karya Mahmud Asy-Syafrowi, riwayat shahih mengenai doa buka puasa diriwayatkan oleh Ibnu Umar RA. Ia berkata bahwa doa yang diucapkan Rasulullah SAW ketika berbuka puasa yaitu sebagai berikut,

ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتِ الْعُرُوقُ وَثَبَتَ الْأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ تَعَالَى

Dzahabadzh dzhama-u wabtallatil-‘uruqu wa tsabatal-ajru insyaa-Allahu Ta’alaa.

Artinya: “Telah hilang rasa haus, telah basah urat-urat, dan telah pasti ganjaran, dengan kehendak Allah Ta’ala.” (HR Abu Dawud, Daruquthni, Hakim, dan Nasa’i)

Doa buka puasa tersebut bersifat universal karena tidak adanya dalil pengecualian dan tidak ada pula riwayat mengenai doa berbuka puasa sunah. Dengan kata lain, doa ini dapat dibaca ketika berbuka puasa wajib ataupun berbuka puasa sunah, seperti puasa Ayyamul Bidh.

Jadwal Puasa Ayyamul Bidh Juni 2024

Ayyamul Bidh Juni ini bertepatan dengan bulan Zulhijah. Perlu dipahami bahwa 13 Zulhijah merupakan hari tasyrik, hari yang dilarang berpuasa.

Maka dari itu, puasa Ayyamul Bidh Juni 2024 bisa dikerjakan mulai 14 Zulhijah. Adapun dinukil dari buku Tuntunan Ibadah Ramadan dan Hari Raya karya R. Syamsul dan M. Nielda, sebagian ulama berpendapat puasa Ayyamul Bidh pada bulan Zulhijah dapat dikerjakan hingga 16 Zulhijah sebagai pengganti 13 Zulhijah yang merupakan hari tasyrik.

Dengan demikian, pada bulan Zulhijah umat Islam bisa mengerjakan puasa Ayyamul Bidh pada 14, 15, dan 16 Zulhijah.

Berikut jadwal puasa Ayyamul Bidh Juni 2024 selengkapnya, sesuai keputusan hasil sidang isbat tentang awal Zulhijah 1445 H/2024 M.

  • 14 Zulhijah 1445 H: Jumat, 21 Juni 2024
  • 15 Zulhijah 1445 H: Sabtu, 22 Juni 2024
  • 16 Zulhijah 1445 H: Minggu, 23 Juni 2024

Keutamaan Puasa Ayyamul Bidh

Mengutip buku Rahasia Puasa Sunnah karya Ahmad Syahirul Alim, Rasulullah SAW sangat menganjurkan kepada umat Islam untuk melaksanakan puasa Ayyamul Bidh, apalagi jika kondisi fisiknya tidak mampu untuk banyak-banyak berpuasa.

Keutamaan puasa Ayyamul Bidh dijelaskan dalam salah satu sabda Rasulullah SAW,

“Barang siapa yang berpuasa setiap bulan sebanyak tiga hari, itulah shiyamud dahr (puasa sepanjang tahun).” Lalu, Allah SWT membenarkan sabdanya dengan menurunkan ayat, “Barang siapa yang mendatangkan satu kebaikan maka baginya ganjaran sepuluh kali lipatnya.” Satu hari puasa, seperti tiga puluh hari. (HR Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Ketika seorang umat Islam rutin berpuasa Ayyamul Bidh, seakan-akan ia telah berpuasa sepanjang tahun. Wallahu a’lam.

(kri/kri)



Sumber : www.detik.com

Keutamaan Meninggal saat Haji Menurut Sabda Rasulullah


Jakarta

Kematian merupakan hal yang tak terhindarkan dari semua manusia. Kematian dapat datang kapan saja, bahkan ketika seseorang tengah melaksanakan haji. Namun, ternyata terdapat keutamaan bagi orang yang meninggal saat haji.

Haji sendiri merupakan salah satu rukun Islam. Menunaikan haji menjadi impian seluruh umat Islam. Haji, terutama haji yang mabrur, termasuk dalam jihad di jalan Allah SWT. Hal ini bersandar pada hadits yang diriwayatkan Aisyah RA.

Ia berkata, “Wahai Rasulullah, kami memandang jihad adalah amalan yang paling afdal. Apakah berarti kami harus berjihad?” Rasulullah SAW pun bersabda, “Tidak. Jihad yang paling utama adalah haji mabrur.” (HR Bukhari)


Haji hukumnya wajib bagi umat Islam yang mampu, baik dari segi fisik maupun finansial. Kewajiban haji dijelaskan dalam Al-Qur’an surah Ali Imran ayat 97. Allah SWT berfirman,

فِيْهِ اٰيٰتٌۢ بَيِّنٰتٌ مَّقَامُ اِبْرٰهِيْمَ ەۚ وَمَنْ دَخَلَهٗ كَانَ اٰمِنًاۗ وَلِلّٰهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ اِلَيْهِ سَبِيْلًاۗ وَمَنْ كَفَرَ فَاِنَّ اللّٰهَ غَنِيٌّ عَنِ الْعٰلَمِيْنَ

Artinya: “Di dalamnya terdapat tanda-tanda yang jelas, (di antaranya) Maqam Ibrahim. Siapa yang memasukinya (Baitullah), maka amanlah dia. (Di antara) kewajiban manusia terhadap Allah adalah melaksanakan ibadah haji ke Baitullah, (yaitu bagi) orang yang mampu mengadakan perjalanan ke sana. Siapa yang mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Mahakaya (tidak memerlukan sesuatu pun) dari seluruh alam.”

Keutamaan Meninggal saat Haji

1. Mendapat Pahala Haji hingga Hari Kiamat

Umat Islam yang meninggal ketika haji akan mendapat pahala haji hingga hari kiamat. Dinukil dari buku Ringkasan Ihya Ulumuddin karya Imam al-Ghazali, hal ini bersandar pada sabda Rasulullah SAW,

“Barang siapa keluar dari rumahnya untuk menunaikan ibadah haji atau umrah, lalu ia meninggal dunia, niscaya ia sudah mendapatkan pahala orang yang menunaikan keduanya (ibadah haji dan umrah), hingga hari kiamat.” (Hadits ini terdapat dalam kitab al-Mughni an Hamli al-Asfar karya al-Hafizh al-Iraqi)

2. Dibangkitkan dalam Keadaan Mengucap Talbiyah

Mengutip buku 200 Amal Saleh Berpahala Dahsyat karya Abdillah F. Hasan, hal ini bersandar pada hadits yang diriwayatkan Abdullah bin Abbas RA. Ia berkata,

“Tatkala seseorang sedang wukuf bersama Rasulullah SAW di Padang Arafah, tiba-tiba ia jatuh dari binatang (unta) yang dikendarainya hingga lehernya patah. Rasulullah SAW pun bersabda,

‘Mandikanlah dia dengan air dan daun bidara. Kafanilah dia dengan dua helai (kain) ihramnya dan jangan kalian menutup kepalanya serta jangan pula kalian beri wangi-wangian padanya. Sesungguhnya ia akan dibangkitkan pada hari kiamat dalam keadaan mengucap talbiyah.'”

3 Masuk Surga Tanpa Hisab

Umat Islam yang meninggal ketika haji akan masuk surga tanpa perlu dihisab. Dijelaskan dalam kitab Asrar al-Haj karya Imam al-Ghazali yang diterjemahkan Mujiburrahman, hal ini bersandar pada hadits yang diriwayatkan al-Uqaili, Ibnu Adi, dan Abu Nu’aim. Rasulullah SAW bersabda,

“Barang siapa meninggal dengan cara ini dalam keadaan sedang beribadah haji dan umrah, maka amalnya tidak dipertunjukkan dan tidak pula dihisab. Lalu dikatakan padanya, ‘Masuklah ke surga.'” (HR ad-Daruquthni dan al-Baihaqi)

Masih dalam kitab yang sama, Imam al-Ghazali menukil hadits yang dikeluarkan al-Baihaqi dalam as-Sunan dari Salman, “Barang siapa meninggal di salah satu dari dua Tanah Suci, maka berhak baginya syafaatku dan pada hari kiamat kelak dia termasuk orang-orang yang aman sentosa.” (HR al-Baihaqi)

Imam al-Baihaqi mengatakan hadits tersebut dhaif. Wallahu a’lam.

(kri/kri)



Sumber : www.detik.com

Doa untuk Kehilangan Uang dan Barang, serta Cara Menyikapinya


Jakarta

Ketika kehilangan uang maupun barang, kita harus mengikhlaskannya karena semua yang kita miliki sebetulnya adalah titipan dari Allah SWT. Namun bukan berarti kita tidak boleh mencarinya.

Sikap yang dapat kita lakukan adalah berusaha mencarinya dan berdoa kepada Allah. Di bawah ini adalah sejumlah doa untuk kehilangan uang dan barang-barang lain, lengkap dengan cara menyikapi ketika kita kehilangan barang.

Doa untuk Kehilangan Uang dan Barang

Ada beberapa versi doa yang sama-sama berhara, uang dan barang yang hilang bisa kembali. Tentunya, uang dan barang kembali dalam kebaikan serta keikhlasan jika keduanya tidak kembali.


1. Doa agar Barang Ditemukan dengan Kebaikan

DIkutip dari NU Online, berikut ini doa agar dipertemukan dengan barang yang hilang dengan kebaikan:

اَللّٰهُمَّ يَا جَامِعَ النَّاسِ لِيَوْمٍ لَا رَيْبَ فِيْهِ، اِجْمَعْ بَيْنِيْ وَبَيْنَ ضَالَّتِيْ فِيْ خَيْرٍ وَعَافِيَةٍ

Arab latin: Allâhumma yâ jâmi’an nâsi liyaumin lâ raiba fîh, ijma’ bainî wa baina dlâllatî fî khairin wa ‘âfiyah

Artinya, “Wahai Tuhanku, wahai Tuhan yang mengumpulkan semua manusia di hari yang tiada ragu lagi padanya. Pertemukan aku dan barangku yang hilang dengan kebaikan dan ‘afiyah,” (Lihat Sayid Utsman bin Yahya, Maslakul Akhyar, Cetakan Al-‘Aidrus, Jakarta).

2. Doa agar Barang Kembali

Dilansir dari buku Selesaikan Segala Resahmu dengan Doa dan Munajat (2020) oleh Salman Al Farisi, doa agar barang yang hilang dapat kembali adalah sebagai berikut:

اَللّٰهُمَّ يَارِبِّ الضَّآلَّةِ وَيَاهَادِيًا مِنَ الضَّلاَلَةِ رُدَّ ضَآ لَّتِىْ

Arab latin: Allahumma yaa rabbadh dhaallati, wa yaa haadiyam minadh dhalaalati, rudda dhaallatii

Artinya: “Ya Allah, Wahai Tuhan dari sesuatu yang hilang, Tuhan yang menunjukkan dari kesesatan, kembalikanlah barangku yang hilang.”

3. Membaca Istirja

Dalam buku Dahsyatnya Doa Para Nabi karya Syamsuddin Noor, S.Ag, dijelaskan bahwa segala sesuatu yang hilang adalah kehendak Allah. Maka dianjurkan untuk membaca kalimat istirja’, yaitu inna lillahi wa inna ilaihi roji’un.

Hal ini tertuang dalam surat Al-Baqarah ayat 156:

اَلَّذِيْنَ اِذَآ اَصَابَتْهُمْ مُّصِيْبَةٌۗ قَالُوْٓا اِنَّا لِلّٰهِ وَاِنَّآ اِلَيْهِ رٰجِعُوْنَۗ ۝١٥٦

Arab latin: “Alladzîna idzâ ashâbat-hum mushîbah, qâlû innâ lillâhi wa innâ ilaihi râji’ûn.”

Artinya: “(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan “Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji’ūn” (sesungguhnya kami adalah milik Allah dan sesungguhnya hanya kepada-Nya kami akan kembali).”

Cara Menyikapi Kehilangan Uang dan Barang

Sebagai muslim yang baik, ada sejumlah cara menyikapi kondisi ketika kita kehilangan uang maupun barang apapun. Di antaranya adalah sebagai berikut:

1. Berdoa

Sambil mencari barang yang hilang, kita juga harus selalu berdoa agar Allah mengizinkan kita agar dipertemukan lagi dengan barang yang hilang. Doa yang bisa diucapkan adalah seperti yang telah dijelaskan di atas.

Jika kehilangan barang, janganlah buru-buru menuduh orang lain mengambilnya, karena belum tentu orang tersebut mengambilnya. Jika perlu, laporkan kejadian kehilangan tersebut kepada pihak berwajib.

3. Meyakini Takdir Allah

Kehilangan uang atau barang termasuk musibah. Ketika menghadapi musibah ringan maupun berat, kita harus meyakini semuanya adalah takdir Allah. Kita bisa mengucapkan kalimat istirja’, yaitu inna lillahi wa inna ilaihi roji’un.

4. Ikhlas dan Bersabar

Sikap selanjutnya adalah ikhlas dan bersabar. Kita harus ikhlas karena semua benda yang kita miliki pada dasarnya adalah titipan dari Allah. Jika hilang, mungkin Allah menghendaki barang tersebut diambil dari kita.

Kesabaran juga tak kalah pentingnya karena disebutkan berulang kali dalam Al Qur’an. Hal ini sesuai dengan firman Allah berikut ini:

“Wahai orang-orang yang beriman! Mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat. Sungguh, Allah beserta orang-orang yang sabar.” (Al-Baqarah: 153).

5. Bersyukur Saat Menemukannya

Barang yang hilang mungkin dapat kembali atas izin Allah. Jika barang tersebut kembali kepada kita, maka kita harus bersyukur dengan mengucap hamdalah.

Demikian tadi sejumlah doa untuk kehilangan uang dan barang, lengkap dengan cara menyikapinya. Wallahu a’lam.

(row/row)



Sumber : www.detik.com

Doa Setelah Berhubungan Suami Istri agar Cepat Hamil Anak Sholeh


Jakarta

Memiliki anak adalah harapan bagi banyak pasangan suami istri. Namun terkadang, harapan tersebut belum dikabulkan oleh Allah.

Selain bersabar dan berpikir positif, pasangan suami istri harus selalu berusaha dan berdoa agar mendapatkan momongan. Salah satunya dengan mengamalkan doa setelah berhubungan suami istri agar cepat hamil.

Tak sekadar memiliki anak, pasangan suami istri juga pasti menginginkan agar dikaruniai anak sholeh dan sholehan. Detikers bisa mengamalkan doa memohon anak sholeh dan sholehah ini kepada Allah.


Doa Berhubungan Suami Istri

Berikut ini berbagai doa berhubungan suami istri yang dilansir dari buku Kitab Doa-Doa Bagi yang Sudah Berkeluarga karya Siti Nur Aidah. Doa berhubungan suami istri ini bisa dibaca sebelum dan setelah bercinta serta ketika ejakulasi agar cepat hamil.

1. Doa Sebelum Berhubungan Suami Istri

Sebelum berhubungan intim, suami dan istri disunnahkan membaca doa agar dijauhkan dari setan selama berhubungan intim. Diharapkan setan tidak turut campur selama berhubungan intim dan anak yang dihasilkan dari hubungan itu tidak diganggu setan selamanya.

Doa ini sesuai dengan hadits nabi sesuai HR. Bukhari dan Muslim:

بِسْمِ اللهِ اَللّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا

Arab Latin: Bismillah, Allahumma jannib naassyyaithaana wajannibi syaithaana maarazaqtanaa

Artinya: “Dengan menyebut nama Allah, ya Allah jauhkanlah kami dari (gangguan) setan dan jauhkanlah setan dari rezeki yang Engkau anugerahkan kepada kami.”

2. Doa Saat Mengeluarkan Mani

Saat ejakulasi atau mengeluarkan mani, doa yang dibaca adalah sebagai berikut:

اَللّهُـــمَّ اجْعَــلْ نُطْفَتَــنَا ذُرّ ِيَّةً طَيِّــبَةً

Arab Latin: Allahummaj’al nuthfatanaa zurriyatan thayyibah

Artinya: “Ya Allah jadikanlah nutfah kami ini menjadi keturunan yang baik (sholeh).”

3. Doa Setelah Berhubungan Suami Istri agar Cepat Hamil

Kemudian Anda juga bisa mengamalkan doa setelah berhubungan suami istri agar cepat hamil. Doanya sebagai berikut:

اَلْحَمْدُ ِللهِ الَّذِيْ خَلَقَ مِنَ المْـَــاءِ بَشَـــرًا

Arab Latin: Alhamdulillaahilladzii khalaqa minal maa i basyaraa

Artinya: “Segala puji bagi Allah yang telah menjadikan air mani ini menjadi manusia (keturunan).”

Doa Memohon Anak Sholeh dan Sholehah

Selain saat berhubungan intim, ada berbagai doa memohon anak sholeh dan sholehah yang bisa dibaca kapan pun. Berikut ini beberapa doanya:

1. Doa Nabi Ibrahim

Dalam QS As-Saffat dikisahkan Nabi Ibrahim pernah berdoa kepada Allah SWT agar memperoleh anak yang sholeh. Kita juga bisa mengikuti doa yang dibaca Nabi Ibrahim berikut ini:

رَبِّ هَبۡ لِىۡ مِنَ الصّٰلِحِيۡنَ

Arab Latin: Rabbi habli minas salihin.

Artinya: “Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang yang saleh.” (QS As-Saffat: 100)

2. Doa Nabi Zakaria

Dalam surah Ali-Imran, dikisahkan Nabi Zakaria yang tidak kunjung dikaruniai anak hingga usianya sangat tua. Dia terus berdoa hingga akhirnya dikaruniai anak laki-laki yang kemudian diangkat Allah menjadi nabi, yaitu Nabi Yahya.

Berikut ini doa Nabi Zakaria yang bisa dibaca:

رَبِّ هَبْ لِي مِنْ لَّدُنْكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً إِنَّكَ سَمِيْعُ الدُّعَاءِ

Arab Latin: Rabbi hablî min ladunka dzurriyyatan thayyibatan innaka sami’uddu’î.

Artinya: ” Ya Tuhanku, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar doa.” (QS Ali Imran: 38)

3. Doa Memohon Keluarga yang Sakinah

Doa ketiga yang bisa diamalkan adalah doa memohon agar dikaruniai keluarga sakinah, mawadah, warahmah, termasuk mendapatkan anak yang sholeh. Doa ini diambil dari firman Allah dalam surat Al-Furqan ayat 74:

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إماما

Arab Latin: Rabbana hab lana min azwajina wa dzurriyatina qurrata a’yun, waj’alna lil muttaqina imama.

Artinya: “Ya Allah, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.”

Demikian tadi berbagai doa lengkap mulai dari sebelum berhubungan intim hingga doa setelah berhubungan suami istri agar cepat hamil. Wallahu a’lam.

(row/row)



Sumber : www.detik.com

Doa setelah Wudhu Pendek, Amalan Pembuka Pintu Surga


Jakarta

Doa setelah wudhu pendek dapat diamalkan umat Islam. Pada dasarnya, doa ini disebutkan dalam sebuah hadits Nabi Muhammad SAW yang berasal dari Umar bin Khattab.

Wudhu sendiri merupakan salah satu cara bersuci bagi muslim yang hendak melaksanakan salat. Dijelaskan dalam buku Sifat Wudhu & Shalat Nabi karya Syaikh Muhammad Fahd dan Syaikh bin Baz, wudhu artinya menggunakan air suci ke atas anggota tubuh tertentu yang telah dijelaskan dan disyariatkan oleh Allah SWT.

Dalil terkait wudhu disebutkan dalam surah Al Maidah ayat 6,


يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِذَا قُمْتُمْ اِلَى الصَّلٰوةِ فَاغْسِلُوْا وُجُوْهَكُمْ وَاَيْدِيَكُمْ اِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوْا بِرُءُوْسِكُمْ وَاَرْجُلَكُمْ اِلَى الْكَعْبَيْنِۗ

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, apabila kamu berdiri hendak melaksanakan salat, maka basuhlah wajahmu dan tanganmu sampai ke siku serta usaplah kepalamu dan (basuh) kedua kakimu sampai kedua mata kaki.”

Lantas, seperti apa bacaan doa setelah wudhu pendek yang disebutkan dalam hadits Nabi SAW?

Doa setelah Wudhu Pendek yang Bisa Diamalkan

Menukil buku Tuntunan Doa & Zikir untuk Segala Situasi & Kebutuhan susunan Ali Akbar bin Aqil, berikut bacaan doa setelah wudhu pendek.

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عبْدُهُ وَرَسُولُهُ

Arab latin: Asyhadu an laa ilaaha illa Allah wahdahu laa syariika lahu, wa asyhadu anna muhammadan ‘abduhu wa rasuuluhu.

Artinya: “Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan aku pun bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.”

Selain itu, ada juga doa setelah wudhu pendek versi lainnya yang dapat diamalkan muslim. Bacaannya adalah sebagai berikut,

اللَّهُمَّ اجْعَلْنِي مِنَ التَّوَّابِينَ وَاجْعَلْنِي مِنَ الْمُتَطَهِّرِينَ

Arab latin: Allahummaj ‘alnii minattawwaabiina waj ‘alnii minal mutathahhiriin.

Artinya: “Ya Allah, jagalah agar aku termasuk dalam golongan yang bertaubat dan yang menyucikan diri.” (HR Tirmidzi)

Keutamaan Mengamalkan Doa setelah Wudhu Pendek

Keutamaan membaca doa setelah wudhu pendek disebutkan dalam hadits dari Umar bin Khattab RA, Nabi Muhammad SAW bersabda:

“Barang siapa yang berwudu, lalu mengucapkan doa, ‘Asyhadu an laa ilaaha illa Allah wahdahu laa syariika lahu, wa asyhadu anna muhammadan ‘abduhu wa rasuuluhu (Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah aku bersaksi bahwa Muhammad semata, tiada sekutu bagi-Nya, dan adalah hamba dan utusan-Nya)’ maka dibukakan baginya semua pintu surga yang 8, ia boleh memasukinya dari pintu mana pun yang disukainya.” (HR Muslim dalam kitab Shahih-nya)

Nabi Muhammad SAW mengatakan surga terdiri dari 8 pintu. Masing-masing pintu itu terbuka tergantung pada amalan yang dikerjakan muslim di dunia.

Membaca doa setelah wudhu pendek dapat membuka seluruh pintu surga. Muslim yang mengamalkan doa tersebut diperbolehkan masuk surga dari pintu mana saja.

Wallahu a’lam.

(aeb/kri)



Sumber : www.detik.com