Kisah Pernikahan Ali bin Abi Thalib dengan Fatimah Putri Rasulullah



Jakarta

Pernikahan Ali bin Abi Thalib dengan Fatimah berlangsung pada bulan Dzulhijjah tahun kedua Hijriyah. Kisah cinta keduanya hingga kini dikenang dan menjadi inspirasi banyak orang.

Sosok Ali bin Abi Thalib merupakan salah seorang sahabat Rasulullah SAW. Ia juga termasuk dalam golongan Assabiqunal Awwalun, yaitu orang-orang yang pertama kali memeluk Islam.

Ketika berusia 6 tahun, Ali pernah menjadi anak asuh Rasulullah SAW dan Siti Khadijah. Beliau bersama sang istri membimbing Ali di rumahnya dan mengasuhnya dengan penuh kasih layaknya anak sendiri.


Perasaan Terpendam Ali terhadap Fatimah

Dikisahkan dalam buku Perempuan-Perempuan Surga oleh Imron Mustofa, tatkala Fatimah lahir, Ali bin Abi Thalib menghabiskan masa kanak-kanaknya bersama putri Rasulullah SAW dan Siti Khadijah di rumah yang menjadi tempat tinggalnya.

Ali bin Abi Thalib telah mengetahui kemuliaan Fatimah sejak kecil. Ia sering memperhatikan Fatimah hingga diam-diam mengaguminya. Meskipun demikian, Ali bin Abi Thalib tetap berusaha menjaga hati dan pandangannya. Bahkan, Fatimah pun tidak tahu bahwa Ali menyimpan rasa yang luar biasa untuknya.

Ketika keduanya beranjak dewasa, Ali bin Abi Thalib berniat menghadap Rasulullah SAW untuk melamar sang putri yang selama ini dikaguminya. Akan tetapi, terbesit sedikit keraguan di dalam hatinya sebab menyadari ia hanyalah pemuda miskin dan tidak memiliki apa-apa untuk diberikan kepada Fatimah.

Di tengah kembimbangannya, terdengar kabar bahwa Abu Bakar RA sudah lebih dulu mengajukan lamaran kepada Rasulullah SAW untuk Fatimah. Kemudian disusul dengan Umar bin Khattab RA yang juga datang untuk melamar putri beliau.

Sungguh berat perasaannya mengetahui Abu Bakar dan Umar yang terlihat lebih pantas mendampingi Fatimah. Namun, sungguh tidak ada yang mengetahui rencana Allah SWT.Di tengah perasaannya yang sempat layu, tak disangka lamaran Abu Bakar dan Umar bin Khattab ditolak secara halus oleh Rasulullah SAW.

Di tengah kegalauannya, salah seorang teman Ali dari kalangan Anshar berkata, “Mengapa kamu tak mencoba melamar Fatimah? Aku punya firasat, kamulah yang ditunggu-tunggu Baginda Nabi.”

Ali bin Abi Thalib menyadari, secara ekonomi tidak ada yang menjanjikan pada dirinya. Ia hanya memiliki satu set baju besi beserta persediaan tepung untuk makanannya. Namun, ia ingin mencoba menjemput cintanya kepada Fatimah.

Lamaran Ali kepada Fatimah Putri Rasulullah

Melansir dari buku Ali bin Abi Thalib RA karya Abdul Syukur al-Azizi, Ali bin Abi Thalib akhirnya memberanikan diri menghadap Rasulullah SAW dan menyampaikan keinginannya untuk menikahi Fatimah RA.

Setibanya di rumah Rasulullah SAW, Ali duduk di samping beliau dan tertunduk diam. Nabi SAW lalu bertanya, “Wahai putra Abu Thalib, apa yang kamu inginkan?”

Dengan suara bergetar dan tubuh berkeringat, Ali menjawabnya, “Ya Rasulullah, aku hendak meminang Fatimah.”

Setelah mengatakan perasaannya, seluruh beban yang selama ini menghimpit perasaannya terasa lega. Rasulullah SAW tidak terkejut mendengar pernyataan Ali, sebab beliau mengetahui Ali mencintai putrinya.

Sebagai ayah yang bijaksana, Rasulullah SAW menanyakan dahulu kepada putri tercinta atas ketersediaannya menerima lamaran tersebut. Setelah Fatimah menyetujui lamaran Ali, Rasulullah SAW bertanya, “Wahai Ali, apakah kamu memiliki sesuatu yang bisa dijadikan mas kawin?”

Kala itu, Ali bin Abi Thalib merasa malu karena dirinya tidak memiliki apapun. Terlebih sejak kecil ia dihidupi oleh Rasulullah SAW.

Ali kemudian menjawab, “Demi Allah, Anda sendiri mengetahui keadaanku. Tidak ada sesuatu tentang diriku yang tidak Anda ketahui. Aku tidak memiliki apapun selain sebuah baju besi, sebilah pedang, dan seekor unta.”

Mendengar jawaban Ali, Rasulullah SAW berkata, “Tentang pedangmu, kamu tetap memerlukannya untuk meneruskan perjuangan di jalan Allah SWT, dan untamu kamu perlukan untuk mengambil air bagi keluargamu serta untuk perjalanan jauh.

Karena itu, aku akan menikahkan kamu dengan mas kawin sebuah baju besi. Wahai Ali, kamu wajib bergembira karena Allah SWT sebenarnya sudah lebih dulu menikahkan kamu di langit sebelum aku menikahkanmu di bumi ini.”

Pernikahan Ali dan Fatimah dengan Mahar Baju Besi

Pada akhirnya, Ali bin Abi Thalib menikah dengan Fatimah berbekal baju besi yang dijualnya seharga 400 dirham. Ia menyerahkan uang tersebut kepada Rasulullah SAW sebagai mahar pernikahannya.

Setelah itu, Rasulullah SAW membagi uang tersebut menjadi tiga bagian. Satu bagian untuk kebutuhan rumah tangga, satu bagian untuk wewangian, dan satu bagian lagi dikembalikan kepada Ali untuk membiayai jamuan makan bagi para tamu yang menghadiri pernikahan.

Nabi SAW menikahkan putrinya dengan Ali bin Abi Thalib seraya membacakan ijab kabul, “Wahai Ali, sesungguhnya Allah telah memerintahkan aku menikahimu dengan Fatimah. Sungguh, aku telah menikahkanmu dengannya dengan mas kawin 400 dirham.”

Lantas Ali menjawabnya, “Aku ridha dan puas hati, wahai Rasulullah.”

Selesai mengucapkan akad, Ali bin Abi Thalib langsung sujud syukur kepada Allah SWT. Pernikahannya dengan Fatimah melahirkan dua orang putra dan dua orang putri. Kedua putranya bernama Hasan dan Husein, sementara kedua putrinya bernama Zainab dan Ummu Kultsum.

(dvs/dvs)



Sumber : www.detik.com

Strategi Jitu Khalid bin Walid pada Perang Mu’tah, Hadapi 100.000 Pasukan Musuh



Jakarta

Perang Mu’tah terjadi pada bulan Jumadil Awwal tahun ke-8 Hijriyah. Pertempuran ini disebut sebagai salah satu yang terbesar dalam sejarah Islam.

Menurut buku Perang Mu’tah Melawan Romawi dan Perang Fathu Makkah tulisan Muhammad Ridha dkk, Mu’tah merupakan suatu tempat yang terletak di wilayah Balqa’, sebuah tempat yang cukup populer di Syam.

Dikatakan, Rasulullah SAW tidak terjun langsung dalam Perang Mu’tah. Beliau mengutus Ja’far bin Abi Thalib sebagai komandan perang.


Dalam buku Kisah Nabi Muhammad SAW tulisan Ajen Dianawati, Rasulullah SAW berpesan kepada Ja’far bahwa jika terjadi sesuatu padanya maka kepemimpinannya digantikan oleh Zaid Haritsah. Lalu, jika Zaid gugur, maka Abdullah bin Ruwahid yang harus memimpin pasukan.

“Dan jika Abdullah bin Ruwahid juga menjadi syahid, maka kalian sendirilah yang harus memilih pemimpin,” kata Nabi SAW.

Pada perang Mu’tah, kehebatan Khalid bin Walid dibuktikan. Ketiga sahabat yang sebelumnya ditunjuk oleh Nabi SAW untuk memimpin tentara muslim justru wafat dalam medan perang, seperti dikutip dari buku Cahaya Abadi Nabi Muhammad SAW karya M Fethullah Gulen.

Kala itu, Khalid bin Walid baru memeluk Islam. Perang Mu’tah merupakan pertempuran pertama yang ia ikuti sebagai tentara muslim.

Dikisahkan dalam buku Sang Panglima Tak Terkalahkan ‘Khalid bin Walid’ karya Hanatul Ula Maulidya, Perang Mu’tah merupakan pertempuran pembuka jalan bagi kaum muslimin untuk menaklukan negara-negara Nasrani.

Tiga bulan setelah Khalid bin Walid menetap di Madinah, Nabi Muhammad SAW mengutus Harits bin Umar untuk menyampaikan surat dakwah dalam rangka mengajak pemimpin wilayah Basrah untuk masuk Islam. Sayangnya, di tengah perjalanan dari Mu’tah ke Baitul Maqdis, Harits bin Umair dihadang oleh Syurahbil bin Amr Al-Ghassani, seorang pemimpin dari wilayah Basrah.

Harits lalu ditangkap dan dibunuh. Kabar mengenai pembunuhan Harits terdengar oleh Rasulullah SAW dan sahabat-sahabat, hal ini pula yang jadi pemantik Perang Mu’tah.

Rasulullah SAW lalu menyiapkan 3.000 bala tentara muslim menuju Basrah, Irak. Perang Mu’tah dimulai dengan perlawanan antara pasukan muslim dengan 100.000 bala tentara gabungan Ghasan.

Pasukan Ghasan adalah kabilah yang berasal dari Yaman yang bermigrasi ke selatan Syam, Hauran. Perang Mu’tah terjadi di dusun Mu’tah sebelah timur sungai Yordania.

Peperangan dengan jumlah yang tak sebanding itu menyebabkan mental pasukan muslimin tertekan. Namun, sebelum peperangan Abdullah bin Ruwahid memberi semangat tentara muslim,

“Sesungguhnya apa-apa yang kalian benci justru itulah yang menjadi tujuan kalian, yaitu syahid di jalan Allah. Kita tidak berperang karena kekuatan dan jumlah mereka yang sangat banyak. Tetapi kita memerangi mereka karena Islam. Allah telah memuliakan kita, maka berangkatlah berperang, sesungguhnya perang kita kali ini hanyalah terdapat dua kebaikan, mendapat kemenangan atau mati syahid,”

Ucapan Abdullah membuat pasukan muslim bersemangat dalam perang itu, mereka melawan rasa takutnya. Namun, seperti yang telah dipaparkan sebelumnya bahwa ketiga sahabat yang ditunjuk Nabi SAW, termasuk Abdullah justru syahid dalam Perang Mu’tah.

Pasukan muslim mulanya bingung menunjuk pemimpin perang, lalu salah seorang pasukan bernama Tsabit bin Arqam maju mengambil bendera Islam dan menunjuk Khalid bin Walid seraya berkata,

“Ambillah wahai Khalid. Sebab engkau yang lebih tahu mengenai strategi dalam perang dan tahu tentang muslihat peperangan. Dan demi Allah, aku tidak akan mengambilnya kecuali aku serahkan kepadamu!”

Tsabit bin Arqam lalu berteriak ke arah pasukan muslim, “Bersediakah kalian wahai pasukan muslimin berada di bawah pimpinan Khalid?”

Tentara muslim menyetujui keputusan itu. Khalid bin Walid dengan sigap mengatur dan menata kembali barisan pasukan muslim yang berantakan akibat serangan musuh dari arah depan dan samping.

Ia kemudian menyusun strategi dengan melakukan tipu muslihat setelah melihat medan pertempuran dari atas bukit menggunakan mata elangnya. Di pertengahan perang, Khalid memberi perintah agar barisan pasukan belakang berpindah ke depan, lalu pasukan sayap kiri berpindah ke sayap kanan, begitu sebaliknya.

Pasukan yang berada di barisan belakang terus menerus bergerak menuju bagian depan sehingga debu-debu berterbangan. Hal ini tentu mengganggu penglihatan pasukan musuh.

Strategi Khalid yang brilian itu mengakibatkan pasukan musuh mengira kaum muslimin mendapat tambahan bala tentara baru. Karenanya, pasukan musuh tidak berani berbuat gegabah dalam menggempur kaum muslimin.

Sementara itu, Qutbah bin Qatadah yang merupakan komandan sayap kanan tentara muslim bertemu dengan jenderal pasukan musuh, yaitu Ghasan Malik. Pertemuan itu menyebabkan duel dan Ghasan terbunuh.

Kematian Ghasan Malik memicu pasukan musuh menahan serangannya terhadap kaum muslimin, hal ini menjadi peluang bagi tentara muslim untuk melakukan konsolidasi. Secara perlahan dan tertata, pasukan muslimin berhasil mengundurkan diri dari peperangan akibat jumlah yang tak seimbang.

Pasukan musuh sama sekali tidak berani mengejar hingga memutuskan untuk menghentikan pertempuran. Strategi Khalid bin Walid menjadi kesuksesan besar bagi kaum muslimin.

Setibanya di Madinah setelah peperangan, Rasulullah SAW menyampaikan rasa bangganya kepada pasukan muslim karena telah berhasil mengalahkan musuh. Selain itu, kaum muslimin juga dapat membuktikan kekompakan untuk tetap berada dalam satu komando.

(aeb/nwk)



Sumber : www.detik.com

Kisah Nabi Muhammad Ditolong Laba-Laba dan Burung Merpati di Gua Tsur


Jakarta

Saat dalam perjalanan hijrah menuju Madinah, Nabi Muhammad SAW pernah ditolong laba-laba dan burung merpati di Gua Tsur. Beliau bersembunyi di dalam gua bersama sahabat yang menemaninya berhijrah, Abu Bakar As-Shiddiq RA.

Setelah diangkat menjadi nabi dan rasul, Nabi Muhammad SAW mendapatkan berbagai perlawanan yang keji dari kaum kafir Quraisy yang saat itu berada di zaman jahiliyah. Pada masa kenabiannya, sempat terjadi beberapa perang besar dalam menegakkan agama Islam.

Mengutip dari buku Kisah Teladan dan Inspiratif 25 Nabi & Rasul karya Anita Sari dkk, dikisahkan bahwa suatu ketika kondisi di Makkah dirasa sudah tidak aman bagi umat Islam. Rasulullah SAW kemudian memerintahkan seluruh kaum muslim untuk berhijrah ke Madinah. Mulanya, beliau berangkat secara diam-diam ditemani oleh Abu Bakar RA.


Ketika dalam perjalanan menuju Madinah, Rasulullah SAW pernah bersembunyi di dalam Gua Tsur dari kejaran kaum musyrikin Makkah. Di tempat tersebut, Allah SWT menunjukkan kebesaran-Nya dengan menempatkan laba-laba dan burung merpati di Gua Tsur.

Pada saat perjalanan menuju Madinah, Nabi Muhammad SAW dan Abu Bakar RA singgah menuju Gua Tsur setelah merasakan ada sosok yang mengintai keduanya. Di situlah keduanya bersembunyi selama tiga malam lamanya.

Nabi Muhammad Ditolong Laba-Laba dan Burung Merpati

Dikisahkan dalam dalam buku Kelengkapan Tarikh Nabi Muhammad yang disusun oleh Moenawar Khalil, kala itu kaum musyrikin mengadakan rapat untuk merundingkan cara menangkap Nabi Muhammad SAW. Mereka lalu mengutus orang-orang yang dapat menjajaki bekas tapak kaki manusia yang berjalan di atas pasir.

Tak hanya itu, mereka juga mengadakan sayembara bahwa barang siapa dapat memancung kepala Nabi Muhammad SAW sampai dapat membawanya di muka mereka, akan mendapat hadiah 100 ekor unta.

Usai menemukan bekas tapak kaki Nabi SAW dan Abu Bakar RA, ahli pencari jejak tapak kaki itu pun mengikutinya. Sesampainya di Gua Tsur, tiba-tiba bekas tapak itu berkenti dan terputus sehingga mereka pun kebingungan harus kemana selanjutnya.

Sesudah Nabi SAW dan Abu Bakar RA masuk ke dalam Gua Tsur, seketika Allah SWT menyuruh laba-laba yang berjumlah ribuan membuat sarang di muka gua serta menyuruh burung-burung merpati liar supaya bersarang dan bertelur di tempat tersebut.

Karena itulah, di depan pintu Gua Tsur dan sekitarnya penuh dengan sarang laba-laba di atasnya serta telur merpati di bawahnya. Orang-orang pencari jejak itu pun berselisih satu sama lain.

Mereka berpikir, seandainya Nabi Muhammad SAW dan Abu Bakar RA masuk ke dalam gua itu, mestinya banyak telur burung merpati yang pecah dan pasti sarang laba-laba itu hancur. Padahal, terlihat tidak satu pun telur yang pecah dan sarang laba-laba itu masih penuh di muka gua.

Salah seorang di antara mereka berkata, “Kita perlu mencoba masuk bersama-sama, coba marilah!”

Kemudian Ummayah bin Khalaf membalasnya, “Mengapa kamu hendak masuk ke dalamnya? Kalau Muhammad telah masuk, tentu sarang laba-laba itu telah luluh bukan? Ya, kalau di dalam gua itu tidak ada binatang liar dan buas atau ular berbisa. Kalau ada, tentu akan mencelakakan kamu bukan?”

Akhirnya, mereka kembali dengan tangan hampa serta hati penuh sesal. Nabi SAW yang berada di dalam gua tersebut tak sedikit pun merasa cemas maupun takut kepada mereka sebab beliau percaya bahwa Allah SWT akan memberinya pertolongan.

Abu Bakar RA kala itu mengangkatkan kepalanya ke atas dan melihat orang-orang yang sedang di atas gua, ia pun berkata kepada Nabi SAW, “Oh, jika mereka melihat kakinya ke bawah atau menundukkan kepalanya ke bawah, tentu dengan segera melihat kita ada di sini bukan?”

Rasulullah SAW pun bersabda, “Janganlah engkau menyangka bahwa aku ini sendirian bersama engkau, tetapi sesungguhnya Allah selalu bersama kita, selamanya Ia akan melindungi kita. Adapun jika mereka nanti masuk ke dalam gua ini dengan jalan melalui pintu gua itu, nanti kita melepaskan diri melalui ini (Nabi menunjukkan jarinya ke sebelah belakang).”

Padahal, sebelah belakang gua itu aslinya tidak berpintu, tetapi setelah Abu Bakar RA menoleh ke belakang, ia melihat di belakang gua itu ada pintu lebar yang dapat digunakan untuk melarikan diri dari musuh. Ia pun menjadi penuh keyakinan bahwa Allah SWT pasti akan memberi perlindungan dan pertolongan kepadanya.

Akhirnya, para pengepung dan pencari jejak itu pun bubar dan pergi dari tempat tersebut untuk kembali ke Makkah. Demikianlah bentuk pertolongan Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW dan Abu Bakar RA saat bersembunyi di Gua Tsur, wallahu a’lam.

(kri/kri)



Sumber : www.detik.com

Nabi yang Mendapatkan Gelar Asad Al Usud, Siapakah Dia?



Jakarta

Nabi dan Rasul dalam Islam memiliki beragam keunikan dan kehebatan, salah satunya adalah pemilik gelar Asad al Usud. Siapakah nabi yang mendapatkan gelar Asad al Usud tersebut?

Dikutip dari Buku Mengenal Mukjizat 25 Nabi tulisan Eka Satria P. & Arif Hidayah dijelaskan bahwa Nabi Idris adalah sosok nabi yang dianugerahi mukjizat luar biasa dan memperoleh kekuatan yang istimewa dari Allah SWT. Dengan anugerah kekuatan ini, Nabi Idris menjalankan tugas mulia dalam memerangi Bani Qabil yang enggan mengikuti ajaran Allah.

Salah satu mukjizat yang dianugerahkan kepada Nabi Idris adalah pemberian gelar Asad al Usud, yang artinya raja dari segala singa. Gelar ini merujuk pada kehebatan dan kekuatan Nabi Idris yang begitu mengagumkan, sehingga disebut sebagai raja dari segala singa.


Selain kekuatan fisik yang luar biasa, Nabi Idris juga mendapatkan mukjizat berupa kecakapan dalam ilmu pengetahuan. Ia memiliki kemampuan dalam menulis, membaca, menghitung, dan menguasai berbagai bidang ilmu pengetahuan lainnya. Ia menjadi sosok yang cerdas dan berpengetahuan luas, yang memimpin dalam pemahaman dan pengaplikasian ilmu pengetahuan.

Nabi Idris dikenal sebagai orang pertama dalam sejarah dunia yang memiliki pengetahuan mendalam dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan. Di antara bidang ilmu yang dikuasainya, terdapat beberapa diantaranya:

– Ia menjadi orang pertama yang mahir menulis dengan pena, yang merupakan sebuah pencapaian yang luar biasa pada zamannya.

– Nabi Idris juga menjadi tokoh pertama yang memiliki kemampuan membaca dengan baik dan mendalam.

– Ia dikenal sebagai orang pertama yang memahami dan menguasai ilmu perbintangan, menunjukkan pemahaman mendalamnya terhadap tata letak dan gerak benda langit.

Allah SWT telah menjadikan sikap mulia dari Nabi Idris AS sebagai teladan umat muslim dalam salah satu firman-Nya yakni surat Al Anbiyaa ayat 85-86,

(85) وَإِسْمَاعِيلَ وَإِدْرِيسَ وَذَا الْكِفْلِ ۖ كُلٌّ مِنَ الصَّابِرِينَ

(86) وَأَدْخَلْنَاهُمْ فِي رَحْمَتِنَا ۖ إِنَّهُمْ مِنَ الصَّالِحِينَ

Artinya: “Dan (ingatlah kisah) Ismail, Idris dan Zulkifli. Mereka semua termasuk orang-orang yang sabar. Dan Kami masukkan mereka ke dalam rahmat Kami. Sungguh, mereka termasuk orang-orang yang saleh.”

Selain keberanian dan kesabaran yang dibekali Allah SWT kepada Nabi Idris, beliau juga dibekali kemampuan lain sebagai ahli nasihat dan ahli hikmah pada zamannya. Ada banyak nasihat yang disampaikan Nabi Idris kepada umatnya semasa hidupnya.

Dikutip dari Buku Sejarah Terlengkap 25 Nabi oleh Rizem Aizid, berikut kumpulan nasihat dari nabi yang bergelar Asad al Usud ini kepada umatnya.

Nasihat nabi yang bergelar Asad al Usud pada umatnya

  • Kombinasi kesabaran yang dilandasi oleh keyakinan kepada Allah SWT akan menghasilkan kemenangan.
  • Kehadiran kebahagiaan terletak pada orang yang berhati-hati dan percaya pada kemurahan ampunan dari Tuhannya, sambil berupaya dengan amal-amal kebajikannya.
  • Saat kamu meraih sesuatu dari Allah SWT melalui doa, pastikanlah bahwa niatmu tulus. Hal yang sama berlaku untuk puasa dan sholatmu.
  • Janganlah mengeksploitasi sumpah palsu dan hindari menyembunyikan sumpah palsu, untuk mencegah dosa dan kesalahan.
  • Jalani ketaatan kepada penguasa dan tunjukkan penghormatan kepada mereka yang memiliki jabatan tinggi. Sampaikanlah rasa syukur dan pujian kepada Allah SWT dalam setiap ucapanmu.
  • Tak perlu iri pada individu yang sedang mendapatkan keberuntungan, karena keberuntungan itu tidak akan bertahan lama.
  • Mengatasi batas kewajaran hanya akan menimbulkan ketidakpuasan.
  • Tidak akan ada rasa syukur terhadap nikmat yang diterima tanpa berbagi dengan orang lain.

(dvs/dvs)



Sumber : www.detik.com

Saat Rasulullah SAW Terkena Sihir, Ini Doa yang Beliau Panjatkan


Jakarta

Praktik sihir sudah terjadi sejak zaman nabi. Menurut sebuah riwayat, Rasulullah SAW pernah terkena sihir dari orang Yahudi bani Zuraiq.

Disebutkan dalam Ash-sihr karya Mutawalli Sya’rawi, orang Yahudi yang mengirim sihir kepada Rasulullah SAW bernama Labid bin Al A’sham. Hal ini diketahui dari riwayat yang diceritakan oleh Aisyah RA.

Kisah saat Rasulullah SAW Terkena Sihir

Aisyah RA menceritakan, Rasulullah SAW pernah disihir oleh seorang Yahudi bani Zuraiq yang bernama Labid bin Al ‘Asham. Sehingga, kata Aisyah RA, Rasulullah SAW mengkhayalkan suatu perbuatan padahal beliau tidak mengerjakannya.


Pada suatu waktu, Rasulullah SAW terus berdoa kepada Allah SWT. Beliau kemudian berkata kepada Aisyah RA, “Hai, Aisyah, aku merasa Allah telah menjawab apa yang aku tanyakan. Aku didatangi dua orang laki-laki. Yang seorang duduk di dekat kepalaku dan yang seorang lainnya duduk di sisi kakiku.

Orang yang duduk di dekat kepalaku berkata kepada yang duduk di sisi kakiku, atau sebaliknya, yang duduk di sisi kakiku kepada yang di dekat kepalaku, ‘Apa penyakit orang ini?’ Orang itu menjawab, ‘Ia terkena sihir.’ Ia bertanya, ‘Siapa yang menyihirnya?’ Orang itu menjawab, ‘Labid bin Al A’sham.’ Ia bertanya, ‘Di mana diletakkan?’ Dia menjawab, ‘Di sumur Zarwan.'”

Selanjutnya Aisyah RA menuturkan bahwa Rasulullah SAW datang ke sumur itu bersama beberapa sahabatnya. Kemudian beliau bersabda, “Hai, Aisyah, demi Allah, seolah-olah warna airnya seperti warna air daun inai dan seakan-akan kurmanya seperti kepala-kepala setan.”

Aisyah RA lalu berkata, “Ya Rasulullah apakah tidak sebaiknya engkau bakar saja?”

Rasulullah SAW menjawab, “Tidak. Sesungguhnya Allah sudah menyembuhkan itu. Aku sudah memerintahkannya supaya ditanam saja.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dikatakan dalam buku Kumpulan Kisah dan Doa Para Nabi yang disusun oleh Abi Abbari, benda yang digunakan sebagai media menyihir Rasulullah SAW tersebut adalah sebuah boneka yang dibuat menyerupai Rasulullah SAW dengan menggunakan rambut dan ramuan lainnya. Boneka tersebut ditusuk dengan sebelas jarum.

Allah SWT menurunkan surah Al-Falaq sebagai doa penyembuhan untuk Rasulullah SAW. Baginda Nabi SAW diperintahkan untuk membacanya dan meniupkan ke dalam segelas air putih. Kemudian, air putih tersebut dioleskan ke seluruh tubuh Rasulullah SAW. Dengan keistimewaan surah Al-Falaq dan anugerah Allah SWT, Rasulullah SAW sembuh dari sihir yang ditujukan kepada beliau.

Doa agar Terhindar dari Sihir

Selain surah Al Falaq dan An Nas, ada juga doa yang bisa dibaca agar terhindar dari sihir. Diambil dari buku Do’a & Wirid: Mengobati Guna-Guna dan Sihir Menurut Al-Qur’an dan As-Sunnah tulisan Yazid bin Abdul Qadir Jawas, berikut doanya.

لَاإِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ يُحْيِيْ وَيُمِيْتُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْئٍ قَدِيْرٌ

Arab Latin: Laa ilaha illallah wahdahu la syarika lahu lahul mulku wa lahul hamdu yuhyi wa yumit, wa huwa ‘ala syai’in qadir

Artinya: “Tidak ada Tuhan Selain Allah, tidak ada sekutu bagi-Nya, milik Allah segala kekuasaan dan bagi-Nya segala pujian. Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu,”

Dijelaskan dalam buku tersebut, doa itu dapat dibaca 100 kali setiap hari, kapan pun, terutama setelah bangun tidur, sebelum tidur dan selepas salat wajib maupun sunnah.

(kri/kri)



Sumber : www.detik.com

Kisah Pengangkatan Abu Bakar sebagai Khalifah Pertama



Jakarta

Abu Bakar Ash Shiddiq RA merupakan salah satu sahabat Nabi Muhammad SAW yang termasuk ke dalam Assabiqunal Awwalun. Nama lengkapnya ialah Abdullah bin Utsman bin Amir bin Ka’ab bin Sa’ad bin Taim bin Murrah bin Ka’ab bin Lu’ai bin Ghalib Al-Qurasyi At-Taimi.

Menukil dari Tarikh Khulafa tulisan Ibrahim Al-Quraibi, Abu Bakar RA disebut sebagai orang pertama yang masuk Islam. Diriwayatkan Ibnu Sa’ad dalam ath-Thabaqat al-Kubra dari Asma’ binti Abu Bakar yang menuturkan,

“Ayahku masuk Islam, sebagai muslim pertama. Dan demi Allah aku tidak mengingat tentang ayahku kecuali ia telah memeluk agama ini,”


Sepeninggalan Rasulullah SAW, Abu Bakar RA ditunjuk sebagai khalifah. Menurut buku Pengantar Studi Islam susunan Shofiyun Nahidloh, S Ag, M H I, Abu Bakar RA menerima jabatan sebagai khalifah pada saat Islam dalam keadaan krisis dan gawat.

Kala itu, muncul berbagai perpecahan, adanya para nabi palsu, serta terjadinya berbagai pemberontakan yang mengancam eksistensi negeri Islam yang masih baru. Pengangkatan Abu Bakar menjadi khalifah berdasarkan keputusan bersama balai Tsaqidah Bani Sa’idah.

Keputusan terkait pemilihan Abu Bakar RA sebagai khalifah setelah Nabi Muhammad SAW wafat dikarenakan beberapa hal, antara lain sebagai berikut:

  • Dekat dengan Rasulullah SAW baik dari ilmunya maupun persahabatannya
  • Sahabat yang sangat dipercaya oleh Rasulullah SAW
  • Dipercaya oleh rakyat, sehingga beliau mendapat gelar As-Siddiq atau orang yang sangat dipercaya
  • Seorang yang dermawan
  • Abu Bakar RA merupakan sahabat yang diperintah oleh Rasulullah SAW untuk menjadi imam salat jamaah
  • Abu Bakar RA ialah seseorang yang pertama memeluk agama Islam

Abu Bakar RA menjabat sebagai khalifah pada tahun 632-634 Masehi. Usai wafatnya Rasulullah SAW, pengangkatan Abu Bakar RA dilakukan dengan persiaran Umar bin Khattab RA dalam sebuah pertemuan di Safiqah melalui musyawarah yang disetujui oleh para tokoh kabilah dan suku lain.

Pada saat itu, pemilihan Abu Bakar RA sebagai khalifah terkesan mendadak karena kondisi dan situasi cukup genting bahkan berpotensi menimbulkan perpecahan. Di sela-sela ketegangan itu, kaum Anshar menyarankan harus ada dua kelompok untuk menjadi khalifah.

Hal tersebut berarti sama seperti perpecahan kesatuan Islam, akhirnya dengan segala risiko, Abu Bakar RA tampil ke depan dan berkata, “Saya akan menyetujui salah seorang yang kalian pilih di antara kedua orang ini,”

Suasana di Safiqah masih belum kondusif, kemudian Umar bin Khattab RA berbicara untuk mendukung Abu Bakar RA dan mengangkat setia kepadanya. Umar bin Khattab RA tidak memerlukan waktu yang lama untuk meyakinkan kaum Anshar dan yang lain bahwa Abu Bakar RA adalah orang yang tepat di Madinah untuk menjadi penerus setelah Nabi Muhammad SAW wafat.

Lalu, musyawarah secara bulat menentukan bahwa Abu Bakar RA-lah yang akan menjadi khalifah dengan gelar Amirul Mu’minin. Pertemuan tersebut merupakan sebuah implementasi dari sebuah politik dengan semangat musyawarah.

(aeb/rah)



Sumber : www.detik.com

Kisah Nabi Yahya yang Tidak Menikah dan Menentang Pernikahan Terlarang



Jakarta

Nabi Yahya AS adalah putra semata wayang dari Nabi Zakaria AS. Saat beliau dilahirkan, kedua orang tuanya telah berusia senja sehingga tidak mungkin baginya memiliki anak. Kelahiran Nabi Yahya AS menunjukkan mukjizat dan wujud kebesaran Allah SWT.

Mengutip dari buku Cerita 25 Nabi & Rasul karya Irsyad Zulfahmi, Nabi Yahya AS sejak kecil telah dikaruniai hikmah oleh Allah SWT. Hal ini dikisahkan dalam Al-Qur’an surat Maryam ayat 12, Allah SWT berfirman:

يَٰيَحْيَىٰ خُذِ ٱلْكِتَٰبَ بِقُوَّةٍ ۖ وَءَاتَيْنَٰهُ ٱلْحُكْمَ صَبِيًّا


Artinya: “Hai Yahya, ambillah Al-Kitab (Taurat) itu dengan sungguh-sungguh. Dan kami berikan kepadanya hikmah selagi ia masih kanak-kanak.” (QS Maryam: 12).

Di masa kecilnya, Nabi Yahya AS sudah tampak lebih pandai dan tajam pemikirannya dari kebanyakan anak-anak seusianya.

Beliau kemudian tumbuh menjadi anak yang cerdas, berperilaku baik, pandai menahan hawa nafsu, hingga diangkat menjadi nabi untuk menggantikan tugas dakwah ayahnya kepada Bani Israil yang kala itu berada di bawah kekuasaan Kekaisaran Romawi.

Nabi Yahya Tidak Menikah Semasa Hidupnya

Disebutkan dalam beberapa tafsir ayat Al-Qur’an, Nabi Yahya termasuk salah satu nabi yang tidak menikah semasa hidupnya. Hal ini mengacu pada firman Allah SWT yang termaktub dalam surat Ali Imran ayat 39:

فَنَادَتْهُ ٱلْمَلَٰٓئِكَةُ وَهُوَ قَآئِمٌ يُصَلِّى فِى ٱلْمِحْرَابِ أَنَّ ٱللَّهَ يُبَشِّرُكَ بِيَحْيَىٰ مُصَدِّقًۢا بِكَلِمَةٍ مِّنَ ٱللَّهِ وَسَيِّدًا وَحَصُورًا وَنَبِيًّا مِّنَ ٱلصَّٰلِحِينَ

Artinya: “Kemudian Malaikat (Jibril) memanggil Zakariya, sedang ia tengah berdiri melakukan sholat di mihrab (katanya): ‘Sesungguhnya, Allah menggembirakan kamu dengan kelahiran (seorang putramu Yahya, yang membenarkan kalimat (yang datang) dari Allah, menjadi panutan, berkemampuan menahan diri (dari hawa nafsu), dan seorang nabi di antara orang-orang saleh.” (QS Ali Imran: 39).

Melalui ayat tersebut, Allah SWT memuji Nabi Yahya AS dengan empat sifat terpuji, yakni sebagai panutan, seorang yang hashur, seorang nabi, dan orang yang soleh. Kata ‘hashur’ yang disebutkan dalam ayat ini, yaitu bermakna orang yang menahan diri dari hawa nafsu atau hubungan seksual.

Disebutkan dalam buku Para Ulama dan Intelektual yang Memilih Menjomblo, KH Husein Muhammad mengartikan kata hashur sebagai orang yang tidak tertarik kepada perempuan, meskipun ia sehat secara seksual.

Namun, hashur bukan berarti menjadi kelemahan yang dimiliki oleh Nabi Yahya AS. Sebab, dalam agama tidak diperbolehkan menyematkan suatu aib dalam pujian.

Syaikh Hamid Ahmad Ath-Thahir Al-Basyuni dalam buku Kisah-Kisah dalam Al-Qur’an menerangkan bahwa sifat Nabi Yahya AS yang mampu menahan diri dari hawa nafsu tersebut bukan berarti tidak menginginkan wanita, tetapi ia terpelihara dari perbuatan keji dan munkar.

Wafatnya Nabi Yahya Kala Menentang Pernikahan Bersaudara

Dalam kisah hidupnya, wafatnya Nabi Yahya AS disebabkan karena menegakkan syariat dengan menentang pernikahan bersaudara.

Selama mengemban risalah Allah SWT untuk menyadarkan kaum Bani Israil, Nabi Yahya AS ikut merasakan sengitnya pertentangan dari kaumnya. Terlebih, ketika para pemuka kaum Bani Israil bersekutu dengan Raja Herodes selaku wakil kekaisaran Romawi di Palestina untuk melawan dakwahnya.

Dikisahkan dalam buku Riwayat 25 Nabi dan Rasul oleh Gamal Komandoko, kegemparan kala itu terjadi di kalangan kaum Bani Israil ketika terdapat kabar yang menyatakan Raja Herodes hendak menikahi anak tirinya yang bernama Herodia.

Pernikahan yang hendak dilakukan Raja Herodes tersebut merupakan bentuk perkawinan yang terlarang di dalam kitab taurat. Nabi Yahya AS pun dengan lantang menyatakan apa yang akan diberbuat Herodes termasuk sebuah kesalahan.

Raja Herodes tentu murka mendengar kecaman dari Nabi Yahya hingga berniat menangkap dan menjatuhkan hukuman terberatnya. Ia kemudian memerintahkan kepada para prajuritnya untuk menangkap dan membunuh Nabi Yahya AS.

Para prajurit Romawi bergerak cepat memenuhi perintah sang raja. Mereka berhasil menemukan keberadaan Nabi Yahya AS ketika tengah melaksanakan sholat. Tanpa menunggu lama, pedang algojo Romawi berkelebat memenggal kepala Nabi Yahya AS.

Saat itu pula Nabi Yahya AS dinyatakan wafat sebagai syuhada, yakni orang-orang yang meninggal saat sedang membela agama Allah SWT.

Azab pedih pun menimpa Raja Herodes dan para pengikutnya, sebagaimana Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an surat Ali ‘Imran ayat 21

إِنَّ ٱلَّذِينَ يَكْفُرُونَ بِـَٔايَٰتِ ٱللَّهِ وَيَقْتُلُونَ ٱلنَّبِيِّۦنَ بِغَيْرِ حَقٍّ وَيَقْتُلُونَ ٱلَّذِينَ يَأْمُرُونَ بِٱلْقِسْطِ مِنَ ٱلنَّاسِ فَبَشِّرْهُم بِعَذَابٍ أَلِيمٍ

Artinya: Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi yang memang tak dibenarkan dan membunuh orang-orang yang menyuruh manusia berbuat adil, maka gembirakanlah mereka bahwa mereka akan menerima siksa yang pedih.

(dvs/dvs)



Sumber : www.detik.com

Kisah Rasulullah Gendong Cucu Perempuannya saat Sholat



Jakarta

Rasulullah SAW semasa hidupnya sangat dekat dan menyayangi cucu-cucunya. Dalam sejumlah riwayat disebutkan, beliau beberapa kali pernah ditemani cucunya saat sholat.

Di tengah tugas dakwahnya yang berat, Rasulullah SAW selalu menyempatkan diri untuk bermain-main bersama sang cucu dan memberikan pendidikan akhlak yang baik kepada mereka. Beliau juga sering mencium cucunya sebagai bentuk rasa kasih sayang.

Dikisahkan dalam sebuah riwayat yang dinukil dari buku Agungnya Taman Cinta Sang Rasul oleh Azizah Hefni, dari Abu Hurairah RA, ia berkata,


“Rasulullah SAW pernah mencium Hasan bin Ali (cucunya dari Fatimah), sedangkan di samping beliau ada Aqra’ bin Habis at-Tamimi sedang duduk. Lalu Aqra’ berkata, ‘Sesungguhnya aku memiliki sepuluh orang anak, tetapi aku tidak pernah mencium seorang pun dari mereka.’

Rasulullah SAW kemudian memandangnya dan bersabda, ‘Barang siapa tidak mengasihi maka ia tidak akan dikasihi.'” (HR Bukhari)

Rasulullah SAW Ditemani Cucunya saat Sholat

Dikisahkan dalam suatu riwayat, Rasulullah SAW pernah ditemani cucunya saat sholat. Beliau sholat sambil menggendongnya. Kala itu, beliau menggendong cucunya yang bernama Umamah binti Abi al-‘Ash, putri dari Sayyidah Zainab RA.

Kejadian ini terdapat dalam hadits yang dinukil dari kitab Bulughul Maram karya Ibnu Hajar Al-Asqalani, dari Abu Qatadah RA berkata,

كَانَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم يُصَلِّي وَهُوَ حَامِلٌ أُمَامَةَ بِنْتِ زَيْنَبَ فَإِذَا سَجَدَ وَضَعَهَا وَإِذَا قَامَ حَمَلَهَا

Artinya: “Rasulullah SAW pernah sholat sambil menggendong Umamah binti Zainab. Jika beliau sujud, beliau meletakkannya dan jika beliau berdiri, beliau menggendongnya.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dalam riwayat muslim, hadits tersebut ditambahkan, “Padahal beliau sedang mengimami orang-orang.”

Mengutip dari buku Manajemen Cinta Sang Nabi Muhammad SAW karya Sopian Muhammad, ada pendapat yang mengatakan bahwa Nabi SAW sengaja menggendong cucu perempuannya (Umamah) untuk mengubah tradisi Arab jahiliyah yang cenderung tidak menyukai anak perempuan, terlebih menggendongnya.

Cucu yang lain pun mendapat perlakukan yang serupa. Rasulullah SAW kerap menggendong mereka ketika menuju ke masjid. Saat tengah berdiri sholat, beliau tetap menggendongnya dan menurunkannya ketika hendak rukuk dan sujud.

Rasulullah memperlama sujud saat punggungnya dinaiki cucu>>>

Rasulullah SAW Memperlama Sujud saat Punggungnya Dinaiki Cucu

Berdasarkan riwayat yang terdapat dalam buku Sholat Khusyuk untuk Wanita oleh M. Khalilurrahman Al-Mahfani & Ummi Nurul Izzah, Rasulullah SAW juga pernah memperlama sujudnya ketika sholat, sebab ada cucunya yang naik ke atas punggung beliau.

Kisah ini disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan dari Abdullah bin Syidad, bahwa ayahnya berkata:

“Pada suatu ketika, Rasulullah keluar untuk mengerjakan sholat Dzuhur atau Ashar. Beliau membawa cucunya Hasan atau Husain, lalu maju ke depan dan meletakkan cucunya, kemudian bertakbir. Ketika sujud, beliau sujud lama sekali hingga terangkat kepalaku.

Terlihat olehku, ternyata sang cucu sedang berada di punggung Rasulullah. Karenanya, aku pun kembali sujud. Setelah selesai sholat, para jemaah bertanya, ‘Wahai Rasulullah, lama sekali Anda sujud hingga kami mengira bahwa telah terjadi sesuatu atau wahyu sedang diturunkan kepadamu.’

Rasulullah menjawab, ‘Semua itu tidak terjadi, melainkan ketika itu, cucuku sedang berada di punggungku dan aku tidak mau mengganggunya hingga dia merasa puas bermain-main.'” (HR Ahmad, Nasa’i, dan Hakim)

Mengetahui kisah Rasulullah SAW bersama cucunya tersebut menunjukkan bahwa beliau senantiasa memperlakukan anak-anak dengan sabar. Beliau menanggapi keusilan cucunya dengan tidak memarahi ataupun menghardik mereka.

Bahkan ketika cucunya menaiki punggung beliau saat sholat, Rasulullah SAW justru tidak mau mengganggu kesenangan cucunya tersebut. Sikap beliau yang penuh kasih sayang ini dapat menjadi teladan bagi para orang tua dalam mendidik anaknya dengan sabar.

(kri/kri)



Sumber : www.detik.com

Kisah Ibu Pemasak Batu pada Masa Khalifah Umar bin Khattab



Jakarta

Ada sebuah kisah menarik mengenai seorang ibu pada masa kekhalifahan Umar bin Khattab. Kala itu, beliau dikenal sebagai pemimpin yang adil dan sangat peduli pada rakyatnya.

Dikisahkan dalam buku Kisah dan Hikmah susunan Dhurorudin Mashad, ketika malam menjelang dini hari Umar bin Khattab melakukan kebiasaan rutinnya yaitu berjalan bersama sang pengawal untuk melihat kondisi rakyat. Sesampainya di dusun kecil terpencil, terdengar suara tangis anak kecil.

Tangisan anak kecil ini memilukan hati Umar. Akhirnya, ia mencari sumber suara tangis yang ternyata berasal dari rumah gubuk sederhana. Bangunan itu terbuat dari kulit kayu, di dalamnya ada seorang ibu yang tengah duduk di depan tungku seperti sedang memasak. Sang ibu sesekali mengaduk panci seraya membujuk anaknya untuk tidur.


“Diamlah wahai anakku. Tidurlah kamu sesaat, sambil menunggu bubur segera masak,” katanya.

Akhirnya sang anak tertidur. Namun tak lama setelahnya ia kembali terbangun dan menangis lagi. Kejadian ini terus berulang sampai akhirnya memancing Umar untuk mengecek apa yang sebenarnya dikerjakan oleh ibu tersebut.

Perlahan Umar mendekat, ia mengetuk pelan sambil mengucap salam. Tak ingin identitasnya diketahui, Umar bertamu dalam keadaan menyamar.

Setelah pintu dibuka, Umar menanyakan terkait apa yang dimasak ibu tersebut dan apa yang menyebabkan putranya menangis terus-menerus.

Dengan sedih, sang ibu menceritakan keadaannya. Ia menyebut anaknya menangis karena lapar padahal ia tak punya makanan apapun di rumah.

Ibu itu juga mengatakan bahwa yang dimasaknya adalah sebongkah batu untuk menghibur si anak. Ini dilakukan seolah-olah ia tengah memasak membuat makanan. Selain itu, ibu tersebut bahkan sempat mengumpat kesal terhadap sang pemimpin pada masa itu yang mana Umar bin Khattab sendiri.

“Celakalah Amirul Mu’minin ibnu Khattab yang membiarkan rakyatnya kelaparan,”

Mendengar hal itu, Umar lalu pergi dan menangis memohon ampun kepada Allah SWT. Ia merasa menjadi pemimpin yang teledor sampai-sampai tidak tahu ada rakyatnya yang kesusahan.

Tanpa berpikir panjang, Umar bin Khattab pulang dan mengambil sekarung gandum. Dibawanya seorang diri karung gandum itu di punggungnya sambil menuju ke rumah ibu yang memasak batu.

Melihat hal itu, pengawal Umar menawarkan diri untuk membantu. Sayangnya, Umar justru menolak.

“Apakah kalian mau menggantikanku menerima murka Allah akibat membiarkan rakyatku kelaparan? Biar aku sendiri yang memikulnya, karena ini lebih ringan bagiku dibanding siksaan Allah di akhirat nanti,” kata Umar yang terus membawa karung gandum tersebut.

Sesampainya di rumah ibu tersebut, Umar langsung memasakkan sebagian gandum untuk dijadikan makanan. Setelah matang, ibu dan anak itu dipersilakan makan hingga kenyang.

Setelah selesai, Umar segera pamit ke ibu dan anak itu. Ia juga berpesan agar esoknya anak dan ibu tersebut datang ke Baitul Mal menemui Umar untuk mendapat jatah makan dari negara.

Sang ibu mengucapkan terima kasih sambil berkata, “Engkau lebih baik dibanding Khalifah Umar,” ucapnya.

Keesokan harinya, sang ibu datang ke Baitul Mal untuk meminta jatah tunjangan pangan bagi diri dan anaknya. Umar menyambut dengan senyum bahagia.

Saat ibu itu menyadari bahwa orang yang membantunya di malam buta adalah Umar sang Amirul Mu’minin, ia langsung terkejut. Umar menyambut si ibu sambil mendekat dan menyampaikan permohonan maafnya.

Beliau tidak sungkan menyampaikan permohonan maafnya sebagai seorang pemimpin.

(aeb/nwk)



Sumber : www.detik.com

Kelahiran hingga Usia 8 Tahun


Jakarta

Rasulullah SAW lahir pada tanggal 12 Rabiul Awal tahun Gajah atau 570 Masehi di Kota Makkah. Simak di sini kisah masa kecil Nabi Muhammad SAW dari masa kelahirannya hingga peristiwa yang dialaminya pada masa itu.

Informasi mengenai kapan Nabi Muhammad lahir dapat disandarkan pada keterangan dari sejumlah hadits. Salah satunya dalam hadits yang diriwayatkan Imam Ibnu Ishaq dari Ibnu Abbas,

وُلِدَ رَسُولُ اللَّهِ يَوْمَ الِاثْنَيْنِ، لِاثْنَتَيْ عَشْرَةَ لَيْلَةً خَلَتْ مِنْ شَهْرِ رَبِيع الْأَوَّلِ، عَام الْفِيلِ


Artinya: “Rasulullah dilahirkan di hari Senin, tanggal dua belas di malam yang tenang pada bulan Rabiul Awal, Tahun Gajah.”

Dikutip dari Ifsya Hamasah dalam buku Kisah Teladan 25 Nabi & Rasul, Nabi Muhammad SAW dilahirkan oleh seorang ibu mulia bernama Aminah.

Di kemudian hari, Nabi Muhammad SAW diutus oleh Allah sebagai panutan bagi seluruh umat manusia di dunia. Allah SWT mengutusnya sebagai penutup para nabi dan rasul. Setelahnya, tidak akan ada lagi nabi dan rasul yang diutus oleh Allah SWT.

Kisah Masa Kecil Nabi Muhammad SAW: Saat Kelahiran

Kelahiran Nabi Muhammad SAW disertai dengan peristiwa luar biasa. Pada saat itu, Abrahah dan pasukannya bermaksud menyerang Ka’bah, namun usaha mereka digagalkan oleh Allah SWT dengan hujan batu dari neraka yang dibawa oleh burung-burung ababil.

Sebab peristiwa itulah, tahun kelahiran Nabi Muhammad SAW dikenal sebagai tahun gajah.

Nabi Muhammad SAW dilahirkan dalam keadaan yatim. Ayahnya, Abdullah, meninggal sebelum kelahirannya. Setelah lahir, Nabi Muhammad SAW kecil diasuh oleh Halimah As-Sa’diyah, seperti yang biasa dilakukan oleh bangsa Arab pada waktu itu. Halimah mengasuh dan menyusui Nabi Muhammad SAW untuk sementara waktu.

“Agar anak dapat berbicara bahasa yang asli, bahasa Arab Kaum Badwi sejati, bahasa yang belum rusak karena belum dipengaruhi bahasa asing. Dengan demikian, anak dapat bertutur kata dengan bahasa Arab yang baik dan dialek Arab yang asli serta fasih,” tulis Moenawar Khalil dalam Kelengkapan Tarikh Nabi Muhammad.

Masa kecil Nabi Muhammad SAW dihabiskan di perkampungan Bani Sa’ad yang dikenal sebagai daerah yang kering dan gersang. Namun, setelah Nabi Muhammad SAW diasuh oleh Halimah, keadaan perkampungan tersebut berubah menjadi subur. Kambing-kambing menghasilkan banyak susu, sehingga penduduk lain di perkampungan pun berkata, “Gembalakanlah kambing-kambing kalian di ladang milik Halimah As-Sa’diyah.”

Kisah Masa Kecil Nabi Muhammad SAW: Saat Dadanya Dibelah

Menurut Sirah Nabawiyah oleh Syaikh Shafiyur Rahman al-Mubarakpuri, saat itu, sebenarnya Nabi Muhammad SAW sudah seharusnya dipulangkan kembali ke keluarganya karena masa menyusuinya telah berakhir.

Namun, Halimah mengajukan permohonan kepada ibu Nabi Muhammad SAW, Aminah, agar dia diizinkan untuk terus merawat Nabi Muhammad SAW lebih lama.

Halimah merasa bahwa keluarganya mendapatkan berkah sejak Nabi Muhammad SAW tinggal bersama mereka, dan permohonannya disetujui oleh Aminah.

Suatu hari, peristiwa besar terjadi. Nabi Muhammad SAW kecil sedang bermain dan menggembala kambing dengan anak-anak Halimah di dekat rumahnya.

Tiba-tiba, dua orang laki-laki berpakaian putih mendekatinya dan membawa Nabi Muhammad SAW ke tempat yang agak jauh dari tempatnya menggembala. Saat itu, Nabi Muhammad SAW kecil ditinggalkan sendirian ketika anak-anak Halimah pulang untuk mengambil bekal makanan.

Ketika anak-anak Halimah kembali, mereka tidak menemukan Nabi Muhammad di mana-mana, namun melihat peristiwa besar saat para malaikat membersihkan hati Nabi Muhammad SAW. Mereka berlari ke rumah untuk memberitahu Halimah dan suaminya.

Mereka bergegas mencari Nabi Muhammad dan menemukannya duduk seorang diri di dekat sebuah rusun. Halimah bertanya mengapa Nabi Muhammad SAW berada di sana seorang diri, dan Nabi Muhammad menceritakan kejadian yang baru saja dialaminya.

Dua orang laki-laki berpakaian putih tersebut ternyata adalah Malaikat Jibril yang membersihkan hati Nabi Muhammad SAW. Malaikat Jibril membelah dada Nabi Muhammad SAW, mengeluarkan sesuatu dari hatinya, dan berkata bahwa itu adalah bagian setan dalam dirinya.

Hati Nabi Muhammad SAW kemudian dimasukkan ke dalam sebuah bejana emas yang diisi dengan air zamzam untuk dibersihkan, lalu para malaikat mengembalikannya ke tempatnya semula.

Peristiwa ini terjadi sekitar tiga kali dalam kehidupan Nabi Muhammad SAW, dan menjadi peristiwa pertama sebelum peristiwa Isra Mi’raj dan sebelum menerima perintah shalat 5 waktu. Bekas luka akibat jahitan dapat dilihat oleh Anas RA, yang menyaksikan kondisi dada Nabi Muhammad SAW.

Berdasarkan tulisan dalam buku Al-Qalb: Kajian Saintis dalam Al-Qur’an, peristiwa pembersihan hati Nabi Muhammad SAW mengandung makna kelapangan dada, yang memungkinkan kemampuan menerima, menemukan kebenaran, hikmah, kebijaksanaan, dan kemampuan untuk memaafkan kesalahan, seperti yang tercantum dalam surah Taha ayat 25 dan Az Zumar ayat 22.

Kisah Masa Kecil Nabi Muhammad SAW: Saat Ibu dan Kakek Wafat

Nabi Muhammad SAW saat berusia 5 tahun sudah kembali ke rumahnya. Ia mulai kembali hidup bersama ibunda dan kakeknya. Namun tak lama setelah itu tepatnya saat Rasulullah SAW berusia 6 tahun,

Nabi Muhammad SAW juga kehilangan sang ibu, Siti Aminah, yang meninggal dunia setelah mereka berdua ziarah ke makam Abdullah. Aminah dikabarkan jatuh sakit sebelumnya dan dikuburkan di sebuah desa bernama Abwaa’.

Alhasil, Nabi Muhammad SAW kembali ke Makkah bersama Ummu Aiman, sosok pelayan di keluarganya yang kemudian dianggap sebagai saudara sendiri oleh orang tua Nabi Muhammad SAW.

Sepeninggal ibunya, Nabi Muhammad SAW diasuh oleh Abdul Muthalib, kakeknya. Sang kakek dikisahkan memiliki tempat spesial karena Nabi Muhammad SAW menghabiskan masa kecil bersamanya.

Demikianlah, seorang Nabi Muhammad SAW yang masih berusia 6 tahun sudah harus menjadi seorang anak yatim piatu tanpa kedua orang tuanya. Hal ini membuat Nabi Muhammad dirawat sepenuhnya oleh Abdul Muthalib yang sangat menyayanginya.

Nabi Muhammad SAW kecil hidup bahagia dalam asuhan Abdul Muthalib dan Ummu Aiman. Namun, seakan kebahagian tidak berlangsung lama. Dua tahun kemudian, beliau yang masih berusia 8 tahun itu kehilangan seseorang yang istimewa baginya, yakni sang kakek, Abdul Muthalib.

Pengasuhan Nabi Muhammad SAW kemudian diserahkan kepada pamannya yang bernama Abu Thalib. Disebutkan dalam sejumlah sirrah bahwa Abdul Muthalib mewasiatkan hal tersebut kepada Abu Thalib, mengingat Abdullah dan Abu Thalib adalah saudara seibu.

Saat bersama pamannya inilah, seorang pemuka agama mengenali Nabi Muhammad SAW sebagai utusan Allah SWT dan membawa Islam pada seluruh masyarakat dunia.

(rah/rah)



Sumber : www.detik.com